Kisah 2 Saudara Perempuan Yahudi yang Bertemu Petani Polandia yang Selamatkan Nyawa Mereka

Vanessa Nathania, Okezone · Kamis 23 September 2021 13:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 23 18 2475695 kisah-2-saudara-perempuan-yahudi-yang-bertemu-petani-polandia-yang-selamatkan-nyawa-mereka-tstw90lA5n.jpg 2 saudara Yahudi (Foto: CNN)

SWEDIA - Sebagai seorang anak yang tumbuh di Swedia, Karolina Jurzyk tidak terlalu memperhatikan cerita kakeknya tentang Polandia pada masa perang.

Saat ini, berkat surat yang sudah lama terlupakan, Jurzyk, 35, telah mengungkap kebenaran tentang bagaimana keluarganya menyelamatkan dan menyembunyikan dua saudara perempuan Yahudinya dari Nazi.

Setelah pindah ke Stockholm saat bayi, Jurzyk tumbuh dengan cerita dari kakek-neneknya tentang keberanian kakek buyutnya - meskipun tidak terlalu detail.

"Saya sangat dekat dengan kakek-nenek saya," katanya kepada CNN. "Saya menghabiskan setiap liburan sekolah bersama mereka di Polandia dan Perang Dunia II sangat terasa karena mereka berdua selamat,” lanjutnya.

Kakeknya, Stanislaw Jurzyk, mengatakan kepadanya pada 1942, saat ia berusia 12 tahun, dia bermain di pertanian keluarga di Gostchorz, sebuah desa sekitar 68 mil sebelah timur Warsawa. Di sinilah dia menemukan dua wanita, keduanya berusia 20-an.

 (Baca juga: Zuhair Al-Shun: Palestina Tidak Pernah Memusuhi Yahudi)

Karena terkejut, dia memberi tahu orang tuanya, yang mengungkapkan bahwa mereka telah menyembunyikan saudara perempuan itu sejak menemukan mereka di lading.

"Mereka dipukuli habis-habisan dan sangat lemah," kata Karolina Jurzyk, yang bekerja sebagai pembuat pola untuk H&M di Stockholm, kepada CNN. Menurut kakeknya, kedua saudara itu yatim piatu -- tetapi mereka tidak banyak membicarakan masa lalu mereka.

Stanislaw disumpah untuk menjaga rahasia itu oleh ayahnya. Pada tahun yang sama, ibunya, Helena, meninggal saat melahirkan -- meninggalkan Stanislaw Senior untuk membesarkan anak-anak sendirian, sambil tetap melindungi kedua wanita itu.

 (Baca juga: Komunitas Yahudi Gotong Royong Bantu Pengusaha Muslim yang Bisnisnya Terancam Bangkrut)

Di bawah rezim Nazi, siapa pun yang kedapatan menyembunyikan orang Yahudi berisiko mendapat hukuman berat -- termasuk hukuman mati -- jika tertangkap.

Jurzyk tidak tahu kakek buyutnya, yang meninggal pada 1989, dan kerabatnya yang masih hidup tidak tahu apa-apa tentang nasib saudara perempuan itu setelah mereka meninggalkan pertanian dua tahun kemudian.

Tetapi ketika ayahnya, Wojciech, 60, baru-baru ini menemukan sebuah surat, minatnya tersulut. Surat tersebut sudah sobek dan tertulis dalam bahasa Polandia kuno, hampir tidak mungkin untuk menguraikan korespondensi, yang kadang-kadang dibicarakan kakeknya.

Namun satu hal yang jelas: nama koresponden -- Fela dan Jadzia Kejzman. Jurzyk, yang sampai saat itu hanya mengetahui nama depan wanita itu, memberanikan diri mencari petunjuk secara online.

Kedua nama tersebut muncul di situs silsilah MyHeritage. Gembira dan gugup, Jurzyk mengirim pesan dari silsilah keluarga tersebut.

Karen Norman, 42, seorang agen real estate yang berbasis di New York, menjawab. Dia adalah cucu dari Jadzia, yang nama lengkapnya adalah Jadwiga.

Norman tahu tentang penyelamatan itu, tetapi bahkan lebih sedikit daripada Jurzyk, karena, seperti banyak korban selamat Holocaust lainnya, nenek dan bibi buyutnya jarang berbicara tentang pengalaman mereka atau kehidupan awal mereka tumbuh di Polandia. Hal yang bisa dia bagikan, adalah bahwa kedua saudara perempuan itu membesarkan keluarga mereka di Amerika Utara; neneknya di Toronto, sedangkan Fela -- kependekan dari Felicia -- menetap di Chicago.

"Saya meneteskan air mata, saya sangat senang mendengar mereka selamat," kata Jurzyk.

Saat ini, keluarga dan MyHeritage berharap untuk mengajukan permohonan ke Yad Vashem -- Pusat Peringatan Holocaust Dunia di Yerusalem -- agar Stanislaw Jurzyk Sr. diakui sebagai Orang Baik Dari Berbagai Bangsa.

Prosesnya rumit tetapi jika berhasil, penghargaan resmi akan membuatnya berada di antara orang-orang non-Yahudi lain yang mempertaruhkan banyak hal untuk menyelamatkan orang Yahudi selama perang -- di antaranya Oskar Schindler, Raoul Wallenberg dan Miep Gies, yang membantu menyembunyikan Anne Frank.

Waktu penemuan itu semakin mengharukan karena kedua keluarga itu berduka selama setahun terakhir.

Nenek Norman meninggal beberapa tahun yang lalu, bibi buyutnya, Fela, baru meninggal pada bulan Desember, dalam usia 103 tahun.

Dan kakek Jurzyk, Stanislaw, meninggal pada Maret setelah menderita demensia. Namun, dia hidup cukup lama untuk mendengar berita itu.

"Kakek saya tampaknya menjadi sangat emosional," kata Jurzyk kepada CNN, ketika dia mengetahui dari putranya, ayah Jurzyk, bahwa hubungan dengan keluarga saudara perempuan telah terjalin.

"Di suatu tempat jauh di lubuk hatinya dia tahu mereka aman,” lanjutnya.

Meskipun dia menyesal tidak bertindak lebih cepat, Jurzyk mengatakan berhubungan dengan Norman telah meringankan kehilangan kematian kakeknya.

"Saya merasa nenek moyang kita memiliki hubungan yang sangat besar dan hampir seolah-olah saya telah menjadi bagian darinya juga,” ujarnya.

"Saya bukan orang yang sangat religius tetapi entah bagaimana saya merasakan energi mereka bersama saya dan itu menenangkan -- sepertinya dia mengatakan ... 'kamu melakukan pekerjaan dengan baik,” terangnya.

Ketika MyHeritage mendengar cerita itu, mereka meminta agar surat itu diterjemahkan secara profesional.

Isi surat itu ditujukan kepada Stanislaw Senior, tertanggal 10 Februari 1948 dan dikirim dari kamp pengungsi di Bamberg, bagian wilayah Jerman yang dikuasai AS.

"Lama waktu berlalu sejak hari di mana kami mengucapkan selamat tinggal kepada Anda. Tetapi, kami belum mengucapkan terima kasih yang tulus kepada Anda atas semua kebaikan yang Anda lakukan untuk kami kala itu. Kami tidak akan pernah melupakan tindakan mulia Anda untuk menyelamatkan kami. Sebuah kehidupan,” tulis surat itu.

Para wanita menggambarkan kakek buyut Jurzyk sebagai "seseorang yang telah melakukan tindakan terbaik dan mulia untuk menyelamatkan hidup manusia" dan mengungkapkan rasa "terima kasih yang paling dalam."

Mereka berbicara tentang "tahapan baru dalam kehidupan" di "tanah Jerman yang berlumuran darah", tetapi menguraikan rencana untuk beremigrasi "melampaui perbatasan Eropa."

Fela tampaknya yang menulis surat itu, mengatakan saudara perempuannya menikah dan punya bayi, sementara dia memiliki "suami yang sangat dicintai."

"Suami saya sudah mengenal Anda dari saya dan dia telah meminta saya untuk mengirimkan salam dan jabat tangan,” ujarnya.

Dengn menandatanganinya, dia mengungkapkan niatnya untuk tetap berhubungan, dengan mengatakan "ikatan persahabatan kita seharusnya tidak dapat dipatahkan."

Baru-baru ini, ayah Jurzyk menemukan surat lain di barang milik ayahnya sendiri. Dalam surat yang satu ini, tanggal 22 November 1949, Fela mengatakan dia dan suaminya tiba di Amerika Serikat setelah melintasi laut berbahaya. Dia menjelaskan bahwa saudara perempuan dan keluarganya tetap di Jerman tetapi berharap untuk segera pergi.

Norman yang penuh emosional mengatakan kepada CNN bahwa mendengar pesab dari Jurzyk "terasa seperti sebuah pertanda."

"Ketika saya menerima pesan itu, itu adalah hal yang paling luar biasa dan paling menyedihkan pada saat yang sama. Saya benar-benar percaya bahwa bibi buyut saya mengirimi kami sebuah pertanda,” terangnya.

Norman mengatakan dia pertama kali bergabung dengan MyHeritage untuk mencoba menemukan jawaban tentang masa lalu para suster.

"Semuanya adalah misteri. Kami tidak tahu bagaimana mereka bisa berada di sana atau ke mana mereka akan pergi. Ada potongan-potongan yang kami tahu, tetapi mereka hanya memberi tahu kami sedikit,” tambahnya.

Norman belum menemukan surat balasan apa pun, tetapi dia belum memeriksa semua barang milik bibi buyutnya.

"Meskipun tidak banyak informasi dalam surat-surat itu, itu masih membuat saya menangis membacanya. Hanya mengetahui betapa berartinya Tuan Jurzyk baginya," kata Norman.

Sejauh ini, kedua wanita itu hanya berkomunikasi melalui pesan online, tetapi mereka berharap untuk segera berbicara di telepon.

"Saya tidak akan berada di sini jika bukan karena kakek buyutnya," kata Norman.

"Mereka hidup karena dia. Seseorang yang baru saja melihat mereka sebagai manusia dan layak diselamatkan. Bagaimana Anda berterima kasih kepada keluarga seseorang untuk sesuatu seperti itu generasi kemudian?"

Menurut peneliti MyHeritage Nitay Elboym, banyak orang yang meneliti sejarah keluarga mereka melihat Holocaust sebagai "lubang hitam", tetapi teknologi yang berkembang memberikan "kesempatan untuk mengatasi kekurangan informasi yang kritis".

"Kami percaya kisah penyelamatan sangat penting, karena mereka menginspirasi kami untuk melakukan apa yang benar pada tingkat manusia, bahkan ketika itu berarti mengambil risiko yang luar biasa," katanya.

1
5

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini