Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Apakah Merdeka Belajar Solusi Pendidikan?

Opini , Jurnalis-Senin, 27 September 2021 |16:47 WIB
Apakah Merdeka Belajar Solusi Pendidikan?
Aminudin (Dok Pribadi)
A
A
A

Berbagai persoalan kebijakan Pendidikan klasik itulah yang kemudian dirubah dengan Konsep "Merdeka Belajar" sekarang ini dengan menjadikan Tahun 2020, UN kemarin dilaksanakan untuk terakhir kalinya. Selanjutnya di Tahun 2021 ini, UN akan diubah menjadi Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. UN mulai dilakukan pada siswa yang berada di tengah jenjang sekolah (misalnya kelas 4, 8, 11) sehingga mendorong guru dan sekolah untuk memperbaiki mutu pembelajaran. UN atau ujian nasional akan mengacu pada praktik baik pada level internasional, seperti PISA dan TIMSS. Programme for International Student Assessment (PISA) adalah penilaian siswa skala besar/internasional yang disponsori oleh Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD). PISA bertujuan untuk mengevaluasi sistem pendidikan dari 72 negara di seluruh dunia.

Salah satu cara meningkatkan kualitas pendidikan agar menghasilkan generasi yang siap dalam pasar internasional adalah dengan mengubah kurikulum. Tujuannya adalah agar Indonesia mampu mengejar ketertinggalan yang salah satunya dibuktikan melalui asesmen PISA.

Sedangkan Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) adalah studi internasional tentang kecenderungan atau arah atau perkembangan matematika dan sains. Studi ini diselenggarakan International Association for the Evaluation of Educational Achievement (IEA) yaitu sebuah asosiasi internasional untuk menilai prestasi dalam pendidikan. TIMSS bertujuan untuk mengetahui peningkatan pembelajaran matematika dan sains. TIMSS diselenggarakan setiap 4 tahun sekali. Salah satu kegiatan TIMSS

UN dan TIMSS mempunyai persamaan yaitu sama-sama menilai kemampuan kognitif pada level pengetahuan dan pemahaman, penerapan teori dan penalaran, serta konten atau lingkup materi yang diujikan disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku di sekolah. Namun, UN dan PISA memiliki perbedaan, PISA menilai kemampuan kognitif mencakup komponen proses dan konten yang diuji mengacu pada penerapan matematika dalam kehidupan. PISA dan TIMSS menghadirkan soal yang membutuhkan penyelesaian tidak hanya mengingat, tapi lebih menganalisis dan memecahkan masalah. Hasil study PISA dan TIMSS menunjukkan peringkat Indonesia masih rendah dari negara lain. Oleh sebab itu, soal HOTS pada UN dari tahun ke tahun selalu meningkat.

Memang harus diakui posisi Indonesia dalam peringkat di dunia selalu masuk 10 negara terbawah apalagi di era Pemerintahan Jokowi kecenderunganya terus merosot. Dalam hasil PISA 2018 lalu, rata-rata kemampuan baca negara-negara OECD berada di angka 487, skor Indonesia sendiri berada di skor 371. Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendikbud) menjelaskan bahwa hasil PISA Tahun 2018 bisa menjadi peringatan karena beberapa tahun terakhir keikutsertaan PISA, nilai kemampuan pendidikan Indonesia mengalami penurunan. Salah satu cara meningkatkan kualitas pendidikan agar menghasilkan generasi yang siap dalam pasar internasional adalah dengan mengubah kurikulum. Tujuannya adalah agar Indonesia mampu mengejar ketertinggalan yang salah satunya dibuktikan melalui asesmen PISA.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement