MUMBAI - Kalau Jakarta mengandalkan Bantar Gebang di Bekasi, Mumbai punya Deonar. "Pegunungan sampah" tertua dan tertinggi di India itu - sampai setinggi gedung 18 tingkat - akan segera digantikan dengan fasilitas pengolahan sampah, seperti dijanjikan Perdana Menteri (PM) Narendra Modi awal bulan ini.
Namun rencana tersebut mengancam mata pencaharian para pemulung yang sudah bertahun-tahun menggantungkan hidup mereka pada sampah.
Setiap pagi, Farha Shaikh berdiri di atas gunungan sampah berusia lebih dari satu abad di kota Mumbai, menanti kedatangan truk sampah.
(Baca juga: PM India Serukan Langkah Tegas Hentikan Pandemi Covid-19 Gelombang Kedua)
Gadis pemulung berusia 19 tahun ini telah mengais-ngais tumpukan sampah di pinggiran kota Deonar sepanjang yang ia ingat.
Dari tempat sampah, ia biasanya memungut botol plastik, gelas, dan kawat untuk dijual di pasar sampah yang ramai di kota. Tapi yang paling penting, ia mencari ponsel rusak.
Setiap beberapa minggu sekali, Farha menemukan telepon selular (ponsel) rusak di antara gundukan sampah. Ia menggunakan uang tabungannya yang tidak seberapa untuk memperbaikinya.
(Baca juga: Truk Tabrak Bus, 18 Orang Tewas, PM India Gelontorkan Dana Bantuan Rp48 Juta)
Begitu ponsel itu hidup kembali, ia menghabiskan malamnya dengan menonton film, bermain video gim, mengirim SMS, dan menelepon kawan-kawannya.
Ketika si ponsel berhenti berfungsi lagi beberapa hari atau minggu kemudian, koneksi Farha dengan dunia luar pun terputus. Ia kembali bekerja seharian, mengumpulkan sampah-sampah kota untuk dijual kembali - dan mencari ponsel rusak lain untuk diperbaiki.