Share

Situs Tempat Bersembahyang Ditemukan di Tuban, Diduga Berasal dari Zaman Pra-Majapahit

Pipiet Wibawanto, iNews · Senin 01 November 2021 09:58 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 01 519 2494723 situs-tempat-bersembahyang-ditemukan-di-tuban-diduga-berasal-dari-zaman-pra-majapahit-jeU94VxpqH.jpg Situs diduga berasal dari zaman pra-Majapahit ditemukan di Gedungombo, Semanding, Tuban. (Foto : iNews/Pipiet Wibawanto)

TUBAN โ€“ Sekelompok pemuda pemerhati sejarah dan karang taruna di Tuban, Jawa Timur, menemukan sebuah situs di kawasan Atas Angin, Kelurahan Gedongombo, Kecamatan Semanding, Tuban. Temuan situs yang diduga sebuah tempat pemujaan atau persembahyangan dan diduga di era pra-Majapahit itu lalu dilaporkan ke Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur.

Menindaklanjuti laporan temuan objek yang diduga cagar budaya, BPCB Jatim menerjunkan tim untuk melakukan survei penyelamatan situs.

Hal tersebut meneruskan hasil kunjungan atas penemuan objek cagar budaya yang berupa setumpuk batu putih yang dilakukan pada pertengahan Juli. Dari langkah penemuan itu, BCB kemudian melanjutkan kegiatan dengan survei penyelamatan.

Penemuan situs tersebut setelah sekelompok pemuda pemerhati sejarah, Teropong Sejarah dan karang taruna Kelurahan Gedong Ombo melakukan kerja bakti di lokasi. Setelah menemukan lokasi yang sebelumnya mirip makam yang dikeramatkan itu, kemudian dilaporkan ke BPCB Jawa Timur.

Ketua Tim Arkeolog BPCB Jatim, Nonuk Kristiana menjelaskan, kegiatan survei ekskavasi tersebut merupakan suatu langkah pelestarian untuk mencari potensi objek cagar budaya di area yang oleh masyarakat dinamakan dengan punden nawang murni itu.

Benda yang ditemukan dari situs yang diduga berasal dari era pra-Majapahit. (Pipiet Wibawanto)

Pihak BPCB Jatim menemukan sebuah struktur bangunan mirip tembok atau pembatas yang masih utuh pada sisi sebelah utara dan timur.

Baca Juga : Ketika Tikaman Belati Ra Tanca kepada Raja Majapahit Buka Jalan Trah Singasari

Kemudian untuk bagian selatan sudah hilang diakibatkan dugaan adanya banjir serta terdapat beberapa tinggalan struktur yang tidak lengkap di bagian depan.

Dari upaya bagian penyelamatan itu, landscape dari lokasi penemuan sudah berubah karena di sebelah barat dari gundukan tanah lokasi sudah tergerus.

Hal menarik di area sebelah timur, karena telah ditemukan sebuah tangga masuk beserta adanya motif plipit yang menunjukkan itu berupa batu kulit. Hal itu menandakan bagian tersebut berada di sisi depan bangunan.

Kemudian ada beberapa struktur yang memiliki ukuran tertinggi, berada di sebelah utara, tepatnya pada TP 14 ini, menunjukkan struktur sembilan lapis dengan ketinggian delapan puluh enam meter. Sedangkan untuk titik terendah pada struktur temuan, terdiri dari satu hingga dua lapis batu putih.

Dalam upaya penyelamatan tersebut, BPCB Jatim telah membuka delapan titik kotak gali. Dari metode ekskavasi yang telah dilakukan/ struktur yang telah ditemukan ada beberapa pembagian ruang. Namun, banyak batu putih yang telah hilang.

Namun, ada struktur bangunan yang diperkirakan merupakan bangunan induk. Sampai saat ini, BPCB Jatim belum bisa mengidentifikasi bangunan maupun kisaran tahun berdirinya bangunan pada temuan struktur batu putih tersebut.

Dikarenakan dalam proses survei penyelamatan ini hanya bertujuan menentukan apakah bisa dilakukan rekomendasi lebih lanjut atau tidak. Jika memang bisa direkomendasikan selanjutnya akan dilakukan ekskavasi penyelamatan situs.

Hasil dari metode ekskavasi yang telah dilakukan diketahui struktur situs tersebut mempunyai keluasan sekitar 14,80 meter di sisi diniding sebelah utara dan 12,40 meter di sebelah timur. Dari luasan lahan tersebut memiliki struktur yang masih utuh dengan batuan putih.

Struktur batu bata putih yang ditemukan dan membentuk sebuah bangunan mirip tembok itu dengan tebal 8 cm dengan lebar 24 cm dan panjang bervariasi antara 34-39 cm.

Jika melihat bahan bangunan berupa batu bata putih, ini menandakan bahwa diduga bangunan tersebut dibangun sebelum era atau pra-Majapahit. Sebab bangunan Majapahit rata-rata sudah menggunakan batu bata merah.

Selain ditemukan struktur bangunan batu bata putih, petugas menemukan berbagai jenis gerabah dari keramik di sekitar lokasi.

Struktur bangunan terebut di duga adalah tempat pemujaan/ atau tempat sembahyang masyarakat pada zaman Hindu.

Setelah di lakukan pemeriksaan kali ini, situs Nawang Murni tersebut memiliki potensi untuk dilakukan pelestarian lebih lanjut.

โ€œMelalui data yang kami himpun, situs ini akan direkomendasikan untuk ekskavasi penyelamatan,โ€ kata Ketua Tim Arkeolog BPCB Jatim, Nonuk Kristiana, Senin (1/11/2021).

Untuk menghindari tangan tangan jahil yang tidak bertanggung jawab, petugas dari BPCB Jatim kemudian menguruk kembali struktur bangunan dan melapisinya dengan karung sebelum benar-benar melakukan penyelamatan dan ekskavasi situs.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini