72 Rumah di Pangkalpinang Masih Terendam Banjir

Tim Okezone, Okezone · Rabu 24 November 2021 12:46 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 24 340 2506641 72-rumah-di-pangkalpinang-masih-terendam-banjir-toFvKdF16J.jpg Banjir Pangkalpinang (Foto: BNPB)

JAKARTA Banjir yang menerjang Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung belum surut. Sebanyak 72 rumah masih terendam banjir.

Banjir terjadi setelah hujan lebat mengguyur wilayah Kota Pangkalpinang pada Selasa 23 November 2021 pukul 16.00 WIB. Kejadian ini melanda Kelurahan Tua Tunu di Kecamatan Gerungung dan menyebabkan 72 unit rumah di lokasi tersebut terdampak.

"Berdasarkan hasil assesemen sementara tim lapangan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pangkalpinang menyebutkan, genangan air di sejumlah lokasi masih belum surut. Pantauan visual, ketingian air berkisar antara 40 - 70 sentimeter," ujar Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari melalui keterangan tertulis, Rabu (24/11/2021).

Baca Juga: Banjir Rendam 10 Kelurahan di Kota Tanjungbalai

BPBD Kota Pangkalpinang melakukan koordinasi dengan pemerintah setempat guna melakukan update informasi terkini di lokasi secara berkala. Selain itu, pihaknya juga melakukan patroli ke titik rawan banjir dan genangan air. Evakuasi terhadap warga terdampak juga dilakukan dengan dibantu tim gabungan yang terdiri dari BPBD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Unsur TNI-Polri, Tagana Kota Pangkalpinang, dan masyarakat.

"Potensi fenomena La Nina yang telah dirilis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) masih dapat terjadi hingga Februari 2022. BNPB menghimbau untuk seluruh perangkat daerah setempat dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan," katanya.

Baca Juga:  Banjir di Kapuas Hulu Kalbar Semakin Meninggi

Abdul Muhari menambahkan, peran serta masyarakat juga diminta aktif untuk melakukan mitigasi dan pembersihan wilayah alirah sungai dari hulu, hal ini bertujuan untuk mengantisipasi terbentuknya bendungan alami yang ada di wilayah hulu untuk mengurangi risiko terjadinya bahaya ancaman hidrometeorologi basah.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini