Susul AS, Inggris dan Kanada Boikot Olimpiade Beijing 2022

Susi Susanti, Okezone · Kamis 09 Desember 2021 08:31 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 09 18 2514218 susul-as-inggris-dan-kanada-boikot-olimpiade-beijing-2022-brMTLjIVQk.jpg Olimpiade Beijing 2022 (Foto: Reuters)

INGGRIS - Inggris dan Kanada telah menjadi negara terbaru yang mengumumkan boikot diplomatik terhadap Olimpiade Musim Dingin Beijing, yang akan diadakan pada Februari 2022.

Pada Rabu (8/12), Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson mengatakan tidak ada menteri yang akan hadir karena dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di China. Hal ini langsung dibantah keras oleh Beijing.

Pengumuman Johnson ini dibuat selama Pertanyaan Perdana Menteri (Prime Minister's Questions) pada Rabu (8/12), setelah mantan pemimpin Konservatif Iain Duncan Smith menyerukan "boikot diplomatik" dari acara olahraga besar tersebut. Johnson mengatakan kepada anggota parlemen bahwa dia biasanya tidak mendukung "boikot olahraga".

 Baca juga: AS Boikot Olimpiade Beijing 2022, China: Memang Tidak Diundang

Kanada mengikuti keputusan itu di kemudian hari, juga merujuk pada masalah hak asasi manusia.

Di Ottawa, Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau mengatakan kepada wartawan bahwa boikot negara itu tidak akan "mengejutkan China".

Baca juga: AS Umumkan Boikot Diplomatik Olimpiade Beijing 2022 : Okezone News

"Kami telah sangat jelas selama bertahun-tahun terakhir tentang keprihatinan mendalam kami seputar pelanggaran hak asasi manusia,” terangnya.

 Thomas Bach, presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC), mengatakan bahwa, terlepas dari meningkatnya jumlah boikot politik, IOC senang bahwa para atlet masih dapat ambil bagian.

“Kehadiran pejabat pemerintah merupakan keputusan politik masing-masing pemerintahan sehingga prinsip netralitas IOC berlaku,” ujarnya.

Hal ini dilakukan setelah pengumuman serupa dilakukan Amerika Serikat (AS) dan Australia awal pekan ini. China telah mengutuk AS atas keputusannya dan mengancam akan melakukan pembalasan, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Dalam beberapa tahun terakhir, ketegangan meningkat antara China dan beberapa negara Barat, karena sejumlah masalah diplomatik.

AS menuduh China melakukan genosida dalam penindasan terhadap minoritas Uyghur yang mayoritas Muslim di wilayah barat Xinjiang - sebuah tuduhan yang berulang kali ditolak China.

Hubungan antara Kanada dan China juga semakin bergejolak setelah penangkapan 2018 di Kanada terhadap seorang eksekutif puncak dengan raksasa teknologi China Huawei atas permintaan pejabat AS, dan penahanan berikutnya terhadap dua warga Kanada di China. Ketiganya dirilis awal tahun ini.

Ketegangan pun semakin meningkat karena penindasan kebebasan politik China di Hong Kong, dan karena kekhawatiran terhadap pemain tenis China Peng Shuai, yang tidak terlihat di depan umum selama berminggu-minggu setelah dia menuduh seorang pejabat tinggi pemerintah melakukan penyerangan.

Asosiasi Tenis Wanita pekan lalu menangguhkan semua turnamen di China karena "keraguan serius" tentang keselamatan Peng.

Adapun Australia semakin memandang China sebagai ancaman keamanan di tengah tuduhan bahwa Beijing telah ikut campur dalam politik dan masyarakat Australia.

Ini juga menimbulkan kekhawatiran atas dua warga negara Australia yang tetap dipenjara di China.

Sementara itum China telah mengatakan bahwa semua tuduhan terhadapnya dibuat-buat.

Pada briefing harian di Beijing, juru bicara kementerian luar negeri Wang Wenbin menuduh Australia terlibat dalam "posisi politik".

"Apakah mereka [pejabat pemerintah] datang atau tidak, tidak ada yang peduli," ungkapnya.

Negara-negara lain - termasuk Jepang - juga dilaporkan mempertimbangkan boikot diplomatik terhadap pertandingan tersebut.

Selandia Baru telah mengkonfirmasi tidak akan mengirim pejabat ke Beijing sebagian besar karena pandemi virus corona. Tapi juga menyuarakan keprihatinan atas masalah hak asasi manusia di China.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini