Share

Cai Tjibadak, Sumber Air Bersih saat Wabah Kolera Melanda Bandung 100 Tahun Silam

Arif Budianto, Koran SI · Rabu 29 Desember 2021 15:43 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 29 340 2524399 cai-tjibadak-sumber-air-bersih-saat-wabah-kolera-melanda-bandung-100-tahun-silam-4rRauqhsqE.jpg Gedung Cai Tjibadak (foto: istimewa)

BANDUNG - Kota Bandung memperingati satu abad Gedung Cai Tjibadak yang terletak di Kelurahan Ledeng, Kecamatan Cidadap. Gedung ini seratus tahun lalu menjadi sumber air bersih bagi warga saat wabah kolera melanda Kota Bandung.

Satu abad berlalu, bangunan tua ini masih berdiri kokoh, menjadi salah satu dari ratusan cagar budaya yang dimiliki Kota Bandung. Tepat pada Rabu 29 Desember 2021 ini, Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Bandung, Yana Mulyana melaksanakan Napak Tilas Gedung Cai Tjibadak.

Baca juga: Majapahit dan Hayam Wuruk Jadi Nama Jalan di Bandung, Wujud Terkikisnya Rasa Dendam

 

Napak tilas 100 tahun gedung Tjibadak adalah salah satu upaya pelestarian lingkungan. Dengan kegiatan ini, selain meningkatkan kepedulian akan peninggalan yang berharga juga untuk melestarikan keberadaan sumber air yang disebut seke.

Saat ini Gedung Tjibadak dioperasikan oleh PDAM Tirta Wening Kota Bandung. Keberadaannya tetap berfungsi sebagai sumber air baku. Selain itu, di sekitarnya tetap menjadi habitat bebagai flora dan fauna yang tetap harus dipertahankan.

Baca juga:  Bandara Syamsudin Noor Buka 4 Rute Baru, Ada Bandung hingga Denpasar

Menurut artikel Yana, 100 tahun lalu terjadi juga kegiatan seremonial peresmian. Mulai dari hari yang sama, yakni hari Rabu di akhir tahun pada bulan Desember. Tak hanya itu, pada tahun 1921 juga sebagai upaya pemerintah memberikan air bersih kepada masyarakat dalam wabah kolera.

"Pada tahun itu Wali Kota Bandung, S. A Reitsma memberikan air bersih tersebut pada wabah kolera," tutur Yana.

Dia berpesan agar konservasi tersebut terus dijaga dengan baik. Mulai dari pemanfaatan lahan, ruang untuk habitat flora dan fauna.

"Terutama pengamanan aset, juga fungsi seke sebagai mata air di tempat ini. Mudah-mudahan kembali memberikan sumber air baku bisa dimanfaatkan kepada warga Kota Bandung," ujarnya.

Dirut PDAM Tirta Wening, Soni Salimi menerangkan, Gedong Cai ini dikelola PDAM Tirta Wening sejak tahun 1977. Dahulu saat awal dikelola debit air sebesar 50 liter per detik. Hari ini debit tercatat di awal tahun, 22 liter per detik atau berkurang 50 persen.

Sumber air tersebut mengalir kepada 800 pelanggan air kepada warga Cipaku dan Ciumbuleuit.

"Kita kelola tempat ini secara aset akan upayakan. Jadi kami sudah berulang ulang penghitungan ukur kawasan. Kita harus memastikan lokasi ini menjadi hak milik," tegas Soni.

Dia mengapresiasi kepada masyarakat sekitar yang selalu mengingatkan PDAM jika terjadi sesuatu. Seperti pergeseran tapak sampai kondisi lingkungan.

"Luar biasa, kolaborasi dengan komunitas juga masyarakat, mereka ikut mengelola. Kami diingatkan juga bahwa adanya pergeseran tepak, penebang pohon di sini. Warga begitu fokus dan konsen dalam kondisi lingkungan," ujarnya.

Di tempat yang sama, Ketua Cinta Alam Indonesia (CAI) Kota Bandung, Yadi Supriadi menyampaikan, bangunan tersebut sebagai warisan yang memiliki nilai sejarah.

"Ini memiliki nilai ketika keberadaan gedung. Tradisi seke dan konservasi harus dipertahankan, karena menjadi penting harus dijaga sebagai seke selir. Tentu saja konservasi harus dipelihara sebagai warisan untuk turunan kami ke depan, " tambahnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini