Rusia dan NATO Gagal Capai Kesepakatan, Polandia Ingatkan Potensi Pecahnya Perang

Rahman Asmardika, Okezone · Jum'at 14 Januari 2022 09:41 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 14 18 2532020 rusia-dan-nato-gagal-capai-kesepakatan-polandia-ingatkan-potensi-pecahnya-perang-ho7qk1BIxH.jpg Foto: Reuters.

MOSKOW – Pembicaraan keamanan antara Rusia danegan NATO pekan ini menemui jalan buntu setelah kedua belah pihak tidak berhasil mencapai kesepakatan tentang masalah-masalah mendasar. Sementara itu Menteri Polandia memperingatkan bahwa kemungkinan terjadinya perang di Eropa.

Pada Kamis (13/1/2022) Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan bahwa dua putaran diskusi antara Rusia dan NATO di Jenewa dan Brussels telah menghasilkan beberapa “nuansa positif” tetapi Moskow sedang mencari hasil yang konkret.

BACA JUGA: Tegang dengan NATO, Rusia Siap Kerahkan Rudal Nuklir Jarak Menengah di Eropa

Pembicaraan, yang pindah ke Wina pada Kamis untuk pertemuan Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama di Eropa (OSCE), dipusatkan pada tuntutan keamanan Rusia dari Barat dan penumpukan pasukannya di dekat Ukraina.

Pengerahan pasukan Rusia di perbatasan telah membuat khawatir Ukraina dan sekutunya yang mendorng agar Kremlin segera menarik pasukan. Negara Barat, terutama Amerika Serikat (AS) telah memperingatkan akan ada sanksi berat terhadap Rusia jika Moskow melancarkan serangan.

BACA JUGA: Presiden Ukraina Akui Ada Kemungkinan Terjadi Perang Total dengan Rusia

Moskow mengatakan tidak memiliki rencana untuk menyerang Ukraina, menekankan bahwa pengerahan pasukan itu dilakukan di wilayah Rusia dan menyalahkan NATO atas ketidakstabilan yang terjadi di kawasan.

Kremlin mengajukan tuntutan kepada Barat, yang termasuk janji bahwa NATO tidak akan pernah mengizinkan Ukraina masuk sebagai anggotanya. NATO juga dituntut untuk menarik pasukannya dari negara-negara bekas komunis di Eropa tengah dan timur, yang bergabung dengan blok militer itu setelah Perang Dingin.

AS menolak mentah-mentah tuntutan itu, tetapi menekankan bahwa pihaknya bersedia mengadakan pembicaraan dengan Rusia tentang pengendalian senjata, penyebaran rudal dan langkah-langkah membangun kepercayaan.

Washington, yang telah mengadakan pembicaraannya sendiri dengan Moskow pada awal pekan, menyuarakan dukungan pada Kamis untuk melanjutkan hubungan diplomatik dengan Rusia.

"Kami bersatu dengan Uni Eropa, dengan NATO, dengan Ukraina, dengan negara-negara komunitas Euro-Atlantik lainnya dengan gagasan bahwa ada jalur diplomatik ke depan di sini," kata Penasihat Keamanan Nasional AS Jake Sullivan kepada wartawan sebagaimana dilansir Al Jazeera.

“Kami juga bersatu dengan sekutu dan mitra kami bahwa Rusia memilih untuk mengambil jalan yang berbeda untuk alasan apa pun atau tanpa alasan sama sekali, kami akan siap untuk itu.”

Sementara itu Menteri Luar Negeri Polandia Zbigniew Rau memperingatkan bahwa potensi pecahnya perang di Eropa berada pada tingkat tertingi dalam 30 tahun terakhir, sejak berakhirnya Perang Dingin.

“Tampaknya risiko perang di wilayah OSCE sekarang lebih besar daripada sebelumnya dalam 30 tahun terakhir,” kata Rau dalam pidato yang menguraikan prioritas negaranya saat memegang jabatan ketua bergilir organisasi tahun ini.

Berbicara di OSCE, Rau mengangkat isu ketegangan di Ukraina, Georgia, Armenia dan Moldova, negara-negara yang tengah berkonflik, yang melibatkan Rusia.

“Tampaknya risiko perang di wilayah OSCE sekarang lebih besar daripada sebelumnya dalam 30 tahun terakhir,” kata Rau dalam pidatonya di pertemuan OSCE.

“Selama beberapa minggu, kami dihadapkan dengan prospek eskalasi militer besar-besaran di Eropa Timur,” katanya.

Polandia adalah salah satu anggota NATO yang paling keras dalam menghadapi apa yang dilihatnya sebagai ambisi revisionis Rusia di Eropa Timur.

"Kita harus fokus pada resolusi damai konflik di dalam dan sekitar Ukraina," kata Rau, menyerukan "penghormatan penuh terhadap kedaulatan, integritas teritorial, dan persatuan Ukraina di dalam perbatasannya yang diakui secara internasional".

Sebagai tanggapan, utusan Rusia untuk OSCE mengatakan Moskow akan mengambil langkah-langkah untuk mempertahankan keamanan nasionalnya jika diperlukan.

“Jika kami tidak mendengar tanggapan konstruktif atas proposal kami dalam jangka waktu yang wajar dan perilaku agresif terhadap (Rusia) berlanjut, kami harus mengambil tindakan yang diperlukan untuk memastikan keseimbangan strategis dan menghilangkan ancaman yang tidak dapat diterima terhadap keamanan nasional kami,” kata Alexander Lukashevich. .

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini