Share

300 Militan ISIS Menyerahkan Diri Usai Pasukan Pimpinan Kurdi Kepung Penjara Suriah

Susi Susanti, Okezone · Rabu 26 Januari 2022 15:41 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 26 18 2538170 300-militan-isis-menyerahkan-diri-usai-pasukan-pimpinan-kurdi-kepung-penjara-suriah-a67wh7JnpM.jpg 300 militan ISIS menyerahkan diri (Foto: EPA)

SURIAH - Pasukan pimpinan Kurdi di Suriah mengatakan sekitar 300 gerilyawan ISIS telah menyerah saat mereka bekerja untuk membersihkan bagian terakhir dari sebuah penjara yang direbut oleh kelompok Negara Islam (IS) atau ISIS..

Sedikitnya 300 orang menyerahkan diri pada Senin (24/1) ketika pasukan komando Pasukan Demokratik Suriah (SDF) pindah ke fasilitas di kota timur laut Hasaka.

Lusinan orang diperkirakan masih bersembunyi di dalam, bersama dengan penjaga yang disandera dan beberapa ratus anak-anak.

Diketahui, ISIS menyerang penjara Kamis (20/1) lalu dalam upaya untuk melakukan pelarian massal. Penjara Ghwayran menahan sekitar 4.000 pria dan anak laki-laki yang ditahan oleh SDF, aliansi milisi dukungan Amerika Serikat (AS) yang menguasai sebagian besar wilayah utara dan timur Suriah.

Baca juga: Taliban Kuasai Afghanistan, Kurdi Khawatir AS Keluar dari Irak dan Suriah

Puluhan narapidana berhasil melarikan diri setelah IS melancarkan serangkaian serangan terhadap fasilitas itu pada Kamis (20/1) malam, dalam operasi militer paling ambisius kelompok itu sejak hilangnya "kekhalifahan" yang dideklarasikannya sendiri hampir tiga tahun lalu.

Pengambilalihan penjara memicu pertempuran besar, ketika koalisi multinasional pimpinan AS melakukan serangan udara dan mengerahkan kendaraan lapis baja untuk mendukung SDF.

Baca juga: ISIS Penggal Kepala Pendeta Lalu Serahkan ke Istrinya

Pada Senin (24/1) malam, pasukan komando SDF telah mengepung penjara dan bersiap untuk merebut kembali sayap utara, saat ratusan militan dan narapidana bersembunyi dengan sejumlah penjaga yang mereka sandera.

Para militan ISIS juga diyakini menahan hingga 700 anak laki-laki, beberapa di antaranya berusia 12 tahun, yang sebelumnya dipindahkan ke Ghwayran setelah dianggap terlalu tua untuk tetap berada di kamp-kamp penahanan bagi keluarga tersangka militan ISIS.

Menurut Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (HAM) yang berbasis di Inggris, lebih dari 160 orang telah tewas dalam pertempuran berikutnya, termasuk 114 tersangka militan dan 45 personel SDF.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan hingga 45.000 penduduk Hasaka juga telah meninggalkan rumah mereka untuk menghindari bentrokan.

SDF menuduh IS menggunakan anak-anak sebagai "perisai manusia" dan kantor hak asasi manusia PBB mengatakan mereka sangat prihatin dengan keselamatan dan kesejahteraan mereka.

Seorang anak asal Australia berusia 17 tahun mengirim serangkaian pesan audio dari penjara. Dia mengatakan dirinya menderita cedera kepala dalam serangan udara dan meminta bantuan medis.

"Saya sangat takut, ada banyak orang mati di depan saya," katanya. "Saya takut saya akan mati kapan saja karena pendarahan. Tolong bantu saya,” lanjutnya.

Juru bicara SDF Ferhat Shami mengatakan pada Selasa (15/1) sore bahwa operasi untuk mendapatkan kembali kendali penuh atas penjara itu berjalan lambat karena aliansi itu "lebih tertarik untuk membebaskan tahanan dan melindungi rakyat kami daripada melenyapkan tentara bayaran".

Rami Abdul Rahman, direktur Observatorium Suriah untuk HAM, mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa pembicaraan untuk mengakhiri kebuntuan sedang berlangsung.

"Jika tidak ada kesepakatan untuk pertukaran, akan terjadi pembantaian, ratusan orang akan terbunuh," ujarnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini