Share

Biden Ancam Sanksi Pribadi ke Putin Atas Ukraina, Miliki Konsekuensi Besar

Susi Susanti, Okezone · Rabu 26 Januari 2022 18:14 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 26 18 2538285 biden-ancam-sanksi-pribadi-ke-putin-atas-ukraina-miliki-konsekuensi-besar-uS3zmEuDlo.jpg AS ancam sanksi pribadi ke Presiden Rusia Vladimir Putin atas Ukraina (Foto: AFP)

WASHINGTON - Amerika Serikat (AS) memperingatkan Moskow, Rusia  pada Selasa (25/1) tentang sanksi yang cukup besar, termasuk tindakan yang secara pribadi menargetkan Presiden Rusia Vladimir Putin, ketika pasukan tempur Rusia yang berkumpul di sekitar Ukraina meluncurkan latihan baru.

Gedung Putih mengatakan risiko invasi Rusia ke Ukraina "tetap dekat". Peringatan dari AS ini akan memicu "konsekuensi besar" dan bahkan "mengubah dunia".

Presiden AS Joe Biden mengatakan dia akan mempertimbangkan untuk menambahkan sanksi langsung terhadap Putin ke dalam serangkaian tindakan yang sedang disusun.

"Ya. Saya akan melihat itu," kata Biden ketika ditanya oleh wartawan di Washington tentang penargetan Putin, yang telah lama dituduh memiliki kekayaan rahasia yang sangat besar.

Baca juga: Biden dan Putin Akan Berbicara di Tengah Ketegangan Ukraina

Seorang sumber rahasia pejabat senior AS mengatakan sanksi bisa berupa sanksi ekonomi "dengan konsekuensi besar" yang jauh melampaui tindakan sebelumnya yang diterapkan pada 2014 setelah Rusia menginvasi wilayah Krimea Ukraina.

Menurut sumber itu, langkah-langkah baru akan mencakup pembatasan ekspor peralatan AS berteknologi tinggi di sektor kecerdasan buatan, komputasi kuantum, dan kedirgantaraan.

Baca juga: Biden: Pasukan AS Tidak Akan Masuk ke Ukraina

"Apa yang kita bicarakan adalah teknologi canggih yang kita rancang dan produksi, dan sanksi ini akan memukul ambisi strategis Putin untuk mengindustrialisasi ekonominya dengan cukup keras," terang pejabat itu.

Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson juga menggemakan ancaman itu, dengan mengatakan sanksi akan lebih berat dari apa pun yang pernah dilakukan.

Sementara itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan dia akan berbicara melalui telepon dengan Putin pada Jumat (28/1) mendatang, mencari "klarifikasi" tentang niat Moskow.

Seperti diketahui, sehari setelah Washington mengatakan telah menempatkan 8.500 tentara AS dalam siaga untuk kemungkinan penempatan untuk mendukung pasukan NATO di Eropa, militer Rusia mengumumkan sedang melakukan latihan baru yang melibatkan 6.000 tentara di dekat Ukraina dan di wilayah Krimea.

Kementerian pertahanan mengatakan latihan tersebut termasuk latihan menembak dengan jet tempur, pembom, sistem anti-pesawat dan kapal dari armada Laut Hitam dan Kaspia.

Menurut pejabat Barat, Kremlin telah mengerahkan lebih dari 100.000 tentara di perbatasan Ukraina, dengan bala bantuan datang dari seluruh Rusia.

"Kami terus mengamati akumulasi kekuatan tempur yang signifikan," kata juru bicara Pentagon John Kirby.

Washington juga memperingatkan sekutu Rusia, Belarusia bahwa pemerintah otoriternya akan "menghadapi tanggapan cepat dan tegas" jika membantu Moskow menginvasi Ukraina.

"Jika invasi akan dilanjutkan dari Belarusia, jika pasukan Rusia ditempatkan secara permanen di wilayah mereka, NATO mungkin harus menilai kembali postur kekuatan kita sendiri di negara-negara yang berbatasan dengan Belarusia," kata juru bicara Departemen Luar Negeri Ned Price kepada wartawan.

AS dan sekutu Uni Eropa-nya menuduh Rusia berusaha untuk menjungkirbalikkan stabilitas Eropa dengan mengancam invasi ke Ukraina, bekas republik Soviet yang berusaha untuk bergabung dengan NATO dan lembaga-lembaga Barat lainnya.

Namun Moskow membantah rencana untuk menyerang negara itu. Rusia juga membantah akan merebut Krimea dan mendukung pasukan separatis di timur.

Rusia malah menyalahkan Barat atas ketegangan tersebut dan telah mengajukan daftar tuntutan, termasuk jaminan bahwa Ukraina tidak pernah bergabung dengan NATO dan bahwa pasukan NATO yang sudah berada di bekas blok Soviet mundur.

Pejabat senior AS mengatakan rencana "kontinjensi" sedang disusun untuk membuat Eropa melewati musim dingin jika Rusia menekan pasokan energi.

Washington dan sekutunya di Eropa sedang menjelajahi pasar global untuk mencari sumber energi alternatif, bahkan ketika Eropa telah berjuang dengan melonjaknya harga energi pada pertengahan musim dingin.

"Jika Rusia memutuskan untuk mempersenjatai pasokan gas alam atau minyak mentahnya, itu bukan tanpa konsekuensi bagi ekonomi Rusia," kata pejabat AS itu kepada wartawan.

Pejabat itu mengatakan meskipun Uni Eropa memperoleh sekitar 40 persen pasokannya dari Rusia, Moskow juga sangat bergantung pada penjualan energi, yang berarti ini adalah saling ketergantungan.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini