JAKARTA - Fenomena hujan es terjadi karena awan cumulonimbus yang mengandung tiga macam partikel, yakni butir air, butir superdingin, dan partikel es. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengatakan bahwa awan cumulonimbus bisa berbentuk dan tumbuh karena beberapa fenomena. Salah satunya ialah proses pergerakan massa udara naik dan turun yang sangat kuat (strong updraft and downdraft) di dalam awan cumulonimbus.
Pergerakan massa udara naik (updraft) yang cukup kuat ini dapat membawa uap air naik hingga mencapai ketinggian dan membuat suhu udara sangat dingin. Sampai akhirnya uap air membeku menjadi partikel es. Fenomena hujan es ini pun kerap terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia, berikut daftarnya.
Baca juga: Hujan Es Masih Akan Terjadi di Indonesia 2 Bulan ke Depan
1. Surabaya
Surabaya dilanda hujan es sekitar pukul 14.50 WIB, pada Senin (21/2/2022). Wilayah yang terkena yaitu Lontar, Bukit Villa Mas, Wiyung, dan Gunung Sari. Butiran es tersebut berukuran kelereng dengan suara kencang di genting. Pada tahun 2017 pernah pula terjadi kejadian serupa di daerah Surabaya dan sebagian wilayah Sidoarjo.
Baca juga: BMKG Sebut Fenomena Hujan Es Dapat Terjadi hingga April karena Cuaca Ekstrem
2. Malang
Hujan dan angin kencang menerjang kawasan Kota Malang, Jawa Timur. Pihak BMKG menjelaskan, dari pantauan citra hujan deras, angin kencang dan hujan es terjadi di sejumlah titik yang ada di Kota Malang. Wilayah-wilayahnya yaitu Kecamatan Blimbing, Sudimoro, Glintung, Lowokwaru. Kejadian ini terjadi pada Kamis, (3/2/2022).
Dari citra radar terlihat ketinggian awan cumulonimbus mencapai 8-9 kilometer dengan nilai relektivitas dari citra radar tinggi. Akibat hujan deras disertai es itu dilaporkan ada enam pohon tumbang, satu kendaraan mobil rusak tertimpa pohon, dan satu warga meninggal dunia setelah tertimpa tembok yang ambruk saat hujan dan angin. Sebelumnya diketahui Kota Malang juga pernah mengalami hujan es di kawasan Perumahan Sawojajar pada 23 Desember 2021.
3. Bogor dan Tasikmalaya
Bogor dan Tasikmalaya dilanda hujan es dengan angin kencang pada 24-25 Januari 2022. BMKG menjelaskan bahwa hujan es merupakan hal yang biasa terjadi saat cuaca ekstrem. Pergerakan massa udara yang naik dan turun sangat kuat, membawa massa udara naik hingga mencapai ketinggian. Udara menjadi sangat dingin dan uap air membeku menjadi partikel es. Selain itu, fenomena ini juga karena lapisan tingkat pembekuan cenderung turun lebih rendah dari ketinggian normal. Ini yang menyebabkan butiran es jatuh ke permukaan bumi tidak mencair sempurna. Durasi hujan es berkisar sepuluh menit dengan luasan berkisar 5-10 km.
Baca juga: BMKG Sebut Fenomena Hujan Es Dapat Terjadi hingga April karena Cuaca Ekstrem
Hujan es tidak bisa diprediksi secara spesifik, hanya bisa diprediksi 0,5-1 jam sebelum kejadian dengan keakuratan kurang dari 50%.
Pada September 2020 hujan es juga pernah terjadi di wilayah Dramaga, dan di Sukaraja, Tasikmalaya pada tahun 2021.
Baca juga: Surabaya Hujan Es, Berikut Penyebabnya dari Kacamata Sains
4. Jakarta
Saat beredar video hujan es di Jakarta pada 28 Juni 2021, BMKG langsung mengonfirmasi kebenaran hujan es tersebut. Hujan es terjadi di Kembangan, Jakarta Barat, walaupun dari pantauan citra daerah yang turun hujan ada di sekitar wilayah Jakarta Utara. Sementara daerah lain di Jabodetabek belum terpantau turun hujan. Angin yang datang dari timur berkembang dan meluas bergerak sesuai arah angin dan melewati Kembangan. Lalu angin ini turun menjadi hujan di wilayah dingin, sehingga sampai di permukaan berupa kristal-kristal es.
Kawasan Jakarta juga sebelumnya diketahui pernah mengalami hujan es pada tahun 2018 di kawasan Thamrin.
(Fakhrizal Fakhri )