Share

Usai Pulang Jadi TKW, Masitoh Derita Gangguan Jiwa

Nila Kusuma, Koran SI · Rabu 23 Februari 2022 12:20 WIB
https: img.okezone.com content 2022 02 23 340 2551738 usai-pulang-jadi-tkw-masitoh-derita-gangguan-jiwa-YogHIjZKSg.jpg Mantan TKW, Masitoh (foto: dok istimewa)

KARAWANG - Seorang warga Karawang di Dusun Jati Boros 2, Desa Kertajaya, Kecamatan Jayakerta, Masitoh (32), dipasung oleh orang tuanya selama 15 tahun. Masitoh terpaksa dipasung setelah diketahui menderita gangguan jiwa. Itoh sering mengamuk dan merusak seluruh isi rumah jika sedang kumat.

Orang tua masitoh, Sarni (62) mengaku terpaksa memasung anaknya dengan rantai karena sering mengamuk. Saat mengamuk ito merusak seluruh isi rumah.

"Kalau sudah kumat suka galak dan merusak dalam rumah. Semua barang yang dia lihat dirusak apa saja. Kalau keluar rumah dia sering kabur sampai ke desa tetangga. Kami repot mencarinya," kata Sarni, Kamis (23/2/22).

BACA JUGA:Diceraikan Majikan di Arab Saudi, TKW Asal Pamekasan Madura Ini Jadi Janda Kaya Raya 

Menurut Sarni, Masitoh diketahui menderita gangguan jiwa setelah bekerja di Kuwait tahun 2007. Waktu bekerja di Kuwait Masitoh oleh majikannya dimasukan ke rumah sakit jiwa untuk diobati. Namun karena tidak kunjung sembuh kemudian oleh majikannya dipulangkan ke Karawang.

"Iya setelah jadi TKW dan bekerja di Kuwait dia jadi begitu. Pertama datang tidak suka ngamuk, tapi kemudian jadi sering mengamuk," katanya.

BACA JUGA:Mantan TKW Asal Blitar Ini Sukses Jadi Youtuber dan Bergelimang Harta Usai Dinikahi Bule 

Jono, kakak ipar Itoh membenarkan keterangan Sarni. Masitoh terpaksa dipasung karena sudah membahayakan orang. Pihak keluarga sudah berupaya menyembuhkan dengan cara nerobat kampung, namun tidak ada perubahan. Untuk berobat ke rumah sakit pihak keluarga tidak sanggup karena sulit secara ekonomi.

"Solusinya dipasung dulu sambil berharap mendapat bantuan dari siapa saja yang mau membantu pengobatan Itoh," kata Jono.

Baca Juga: Tidak Hanya Berantas Pencurian Ikan, Ini Bukti Nyata Ketegasan KKP

Sementara itu, Kepala Bidang Rehabilitasi Dinas Sosial ( Dinsos) Karawang, Dyah Pallupi ketika dikonfirmasi membenarkan adanya peristiwa pemasungan itu. Pemkab Karawang baru mengetahui peristiwa pemasungan tahun 2021 lalu.

Kemudian pihak Pemkab Karawang menawarkan bantuan untuk membawa Masitoh ke rumah sakit jiwa Marzoeki Mahdi di Bogor.

"Saat itu keluarga menolak kalau dibawa ke Bogor. Padahal semua biaya ditanggung pemerintah. Kalau di Karawang belum ada rumah sakit jiwa," katanya.

Menurut Dyah, meski menolak untuk dirawat dirumah sakit namun Pemkab Karawang melalui Dinas Kesehatan secara rutin memberikan obat untuk Masitoh. Upaya Pemkab Karawang membujuk Masitoh berobat ke rumah Sakit Jiwa di Bogor akhirnya berhasil.

"Baru kemarin keluarga setuju Masitoh berobat ke Bogor. Padahal kita sudah 2021 lalu meminta Masitoh berobat ke Bogor," katanya.

Dyah mengatakan, Masitoh saat ini sudah tidak rantai lagi. Kamis (23/2) siang ini akan langsung dibawa ke bogor untuk diobati.

"Sudah dilepas rantainya dan sekarang didampingi dokter agar tidak mengamuk di jalan," pungkasnya.

Korban pemasungan dengan cara dirantai, Masitoh, akhirnya dilepas setelah akan berobat ke rumah sakit jiwa.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini