Share

Sophie Scholl, Tokoh Mawar Putih Penentang Nazi yang Tetap Heroik Meski Dihukum Mati

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Jum'at 25 Februari 2022 05:19 WIB
https: img.okezone.com content 2022 02 25 18 2552736 sophie-scholl-tokoh-mawar-putih-penentang-nazi-yang-tetap-heroik-meski-dihukum-mati-zkIE4FW45X.jpg Shopie Scholl. (Foto: nationalww2museum.org)

SOPHIE Scholl lahir pada 9 Mei 1921 di Forchtenberg, Jerman. Ia anak keempat dari enam bersaudara. Ayahnya merupakan seorang wali kota di Kota Forchtenberg. Sophie dibesarkan dalam keluarga yang menganut agama Kristen.

Saat berusia 12 tahun, ia dan sebagian besar teman sekelasnya bergabung dengan organisasi Liga Gadis. Sophie bahkan maju sebagai pemimpin pasukan.

Ketika itu, Adolf Hitler berkuasa dan mulai mengendalikan semua aspek masyarakat Jerman. Sophie resah akan ideologi rasis Nazi pimpinan Hitler. Terlebih ketika disahkan Undang-Undang Nuremberg pada tahun 1935 yang melarang orang Yahudi berada di tempat umum di seluruh Jerman. Ia amat keberatan dan sangat vokal ketika dua teman Yahudinya dilarang bergabung dengan Liga Gadis Jerman.

Hal itu membuat Sophie muak dengan Partai Nazi. Ia pun menolak berkawan dengan temannya yang pro-Nazi. Perlahan ia juga mulai bergaul secara eksklusif dengan orang-orang yang memiliki pandangan filosofis dan politik liberal reaksioner.

Kakaknya, Hans, juga memiliki sikap yang sama. Ia bahkan ditangkap karena berpartisipasi dalam Gerakan Pemuda Jerman yang demokratis dan berpikiran bebas. Hal itu dilarang oleh Hitler pada tahun 1933.

Baca juga: 3 Tokoh Nazi Paling Kejam, Siapa Saja?

Pada Mei 1942, Sophie mendaftar di Universitas Munich, tempat saudara laki-lakinya, Hans, berkuliah di jurusan kedokteran. Pada masa itu juga, ayahnya menjalani hukuman empat bulan penjara karena menyebut Hitler sebagai “Momok Tuhan”. Di saat kuliah inilah Sophie mengenal White Rose atau Mawar Putih.

White Rose merupakan sebuah kelompok informal yang menentang perang dan rezim Hitler. Pendirinya tak lain adalah Hans, bersama sejumlah rekannya, pada awal 1942. Mereka memberontak rezim secara tidak langsung dengan cara membagikan selebaran yang berisi saran atau cara-cara yang dapat dilakukan orang-orang Jerman untuk menolak perang dan menuntut pemerintahan secara damai.

Salah satu isi pamflet itu bertuliskan, “Peradaban barat harus mempertahankan diri dari fasisme dan menawarkan perlawanan pasif sebelum pemuda terakhir bangsa ini memberikan darahnya di suatu medan perang.”

Tanpa ragu, Sophie langsung bergabung dengan kelompok Mawar Putih. Anggota Mawar Putih ini terdiri dari Hans Scholl, Sophie Scholl, Alexander Schmorell, Willi Graf, Kurt Hube, dan Cristoph Probst. Selebaran-selebaran dicetak dan didistribusikan guna mendorong warga melakukan perlawanan terhadap Nazi. Mereka mencela pembunuhan orang-orang Yahudi dan menuntut diakhirinya perang, yang sudah dimulai pada tahun 1940.

Mawar Putih mencetak selebaran keenam di awal 1943, yang merupakan selebaran terakhir mereka. Saat itu Hans dan Sophie sepakat membagikan selebaran di Universitas Munich. Scholl melemparkan setumpuk selebaran dari lantai atas gedung ke lapangan universitas. Saat kertas-kertas itu berhamburan, aktivitasnya itu terlihat oleh seorang penjaga yang kemudian melaporkan ke Gestapo (polisi rahasia).

Sophie dan Hans ditangkap dan diinterogasi. Keduanya kukuh merahasiakan anggota-anggota kelompok Mawar Putih ini. Namun ternyata usahanya tidak membuahkan hasil. Sophie, Hans, dan Cristoph Probst pun diadili.

Ketiganya menjalani sidang pada 21 Februari 1943 di Pengadilan Rakyat Reich Jerman. Sidang dipimpin oleh Ketua Mahkamah Agung Roland Freisler.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Selama di persidangan, Freisler sering menolak untuk mengizinkan mereka bersaksi. Satu-satunya pernyataan yang diizinkan, Sophie mengatakan bahwa semua orang mempercayai apa yang Mawar Putih tulis. Hanya mereka tidak berani mengekspresikan diri seperti yang Mawar Putih lakukan.

Keesokan harinya, ketiga orang itu dinyatakan bersalah karena melakukan pengkhianatan tingkat tinggi dan dijatuhi hukuman mati. Beberapa jam kemudian, mereka dieksekusi dengan guilotine di Penjara Stadelheim Munich.

Petugas penjara yang mengaksikan eksekusi tersebut sangat mengingat keberanian Sophie. Sophie Scholl meninggalkan kata-kata terakhirnya, “Hari yang cerah dan aku harus pergi. Apa pentingnya kematianku, jika melalui kita, ribuan orang terbangun dan tergerak untuk bertindak?”

Melansir dari berbagai sumber,

Maria Alexandra Fedho/Litbang MPI

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini