Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Senjakala Kerajaan Majapahit di Bawah Kepemimpinan Raja Brawijaya V

Alvin Agung Sanjaya , Jurnalis-Jum'at, 25 Februari 2022 |06:10 WIB
Senjakala Kerajaan Majapahit di Bawah Kepemimpinan Raja Brawijaya V
Senjakala Kerajaan Majapahit di bawah kepemimpinan Raja Brawijaya V. (Ist)
A
A
A

KERAJAAN Majapahit pernah menjadi kemaharajaan besar dalam sejarah bangsa Indonesia atau Nusantara. Kerajaan bercorak Hindu-Buddha yang berawal tahun 1293 hingga runtuhnya pada 1527 masehi.

Istana Besar Majapahit pernah diduduki sederet pemimpin terkenal dalam riwayat silsilah raja-rajanya, dari Raden Wijaya, Hayam Wuruk, hingga Brawijaya V.

Dikutip dari buku Brawijaya Moksa Detik-Detik Akhir Perjalanan Hidup Prabu Majapahit, Bhre Kertabhumi Raja Majapahit yang mulai memakai nama Brawijaya sebagai pengingat akan pendiri kerajaan Majapahit.

Gelar Brawijaya juga mulai digunakan sebagai penyandangan gelar dilakukan sebagai sebuah strategi politik yakni untuk memperkuat kedudukan Raja Majapahit.

Kerajaan Majapahit memang pernah mengalami masa keemasan atau masa kejayaan di zaman Prabu Hayam Wuruk dengan Patih Gajah Mada yang terkenal dengan Sumpah Palapa'-nya, terbukti kekuasaan Majapahit pada tahun 1331 itu dapat menguasai negara negara di kawasan Asia Tenggara, seperti Malaysia, (Cempa) Thailand, Kamboja, Philipina, Singapura, Brunei Darusalam dan sebagainya.

Namun, masa kejayaan atau masa keemasan itu seperti hanya tinggal kenangan di zaman kepemimpinan Prabu Brawijaya V, ibaratnya seperti zaman beralih musim bertukar'.

Bhre Kertabhumi atau Brawijaya V (1468 -1478), sosok yang diyakini sebagai raja terakhir Majapahit.

Kepemimpinan Prabu Brawijaya V pada saat itu memang dihadapkan situasi yang sangat pelik, yakni terjadinya musim paceklik panjang yang menimpa rakyat Majapahit sehingga menyebabkan harga sandang pangan menjadi mahal dan tak terjangkau bagi rakyat.

Tak ayal rakyat Majapahit pun kelaparan kadang makan dan kadang tidak makan. Toh, seandainya makan pun bukan nasi beras, tetapi makan nasi thiwul atau ampok (tepung jagung).

Senjakala pun tidak berakhir sampai di situ saja. Beberapa referensi menyebut Majapahit tengah mengalami persoalan internal dengan munculnya pemberontakan yang dilakukan Girindrawardhana, menantu Brawijaya V.

Dikatakan dari referensi lain bahwa pada saat itu kebobrokan moral para putra putri bangsawan serta para nayaka praja Majapahit yang sudah kebablasan dengan mengumbar hawa nafsunya.

Demikianlah bahwa kehidupan berlangsung seperti 'cakramanggilingan' yakni seperti roda berputar, kadangkala berada di atas dan kadangkala berada di bawah, tetapi semua itu bergantung bagaimana cara menyikapi keadaan yang dihadapkan kepada Raja Majapahit.

Sumber: Buku Brawijaya Moksa Detik-Detik Akhir Perjalanan Hidup Prabu Majapahit

(Erha Aprili Ramadhoni)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement