Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Pilu Pengungsi dari Suriah dan Palestina yang Kembali Terjebak Perang di Ukraina

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Senin, 07 Maret 2022 |19:00 WIB
Kisah Pilu Pengungsi dari Suriah dan Palestina yang Kembali Terjebak Perang di Ukraina
Prajurit Ukraina tengah mengevakuasi warga di Kyiv (Foto: Reuters)
A
A
A

Di sebuah sudut rubanah tua, sekarang sudah diubah menjadi lokasi berlindung dari bom. Seprai, selimut dan bantal dibentuk sedemikian rupa menjadi tempat.

Sementara itu, meja kecil, buah apel segar, dan teh menjadi harapan pasangan ini menghadapi musim dingin, ketika temperatur udara bisa mencapai minus enam derajat Celsius.

Ada satu titik rawan di tempat yang miskin sirkulasi udara ini yaitu pencahayaan. Namun, hal ini akan dibantu dengan cahaya redup dari bohlam bertenaga baterai yang mereka sudah beli.

Waktu bergerak lambat, sembilan belas langkah di bawah lantai, dan pasangan ini mencoba yang terbaik untuk mengatasi rasa takut.

Rasa takut yang meningkat setelah melihat pemberitaan dari stasiun media lokal sebelum memutuskan untuk bersembunyi di bawah tanah.

"(Kami takut) karena kami melihat apa yang terjadi di Kharkiv dan kota-kota yang telah dibumi hanguskan oleh Rusia.

"Kami melihat Rusia mengebom sebuah stasiun televisi dan ini membuktinya bahwa target mereka bukan hanya instalasi militer.

"Kami melihat bagaimana kematian dari warga sipil," kata Omar.

Kota terbesar di Ukraina setelah Kyiv adalah Kharkiv, yang menjadi target pertama bom pasukan Rusia setelah invasi dimulai pada 24 Februari lalu.

Pada hari keenam invasi, kota yang berada di timur laut ini menjadi berita utama dunia setelah rudal dan roket Rusia menghancurkan jantung budaya kota ini.

Sebuah rumah opera, ruang konser, dan gedung pemerintahan dihancurkan di Freedom Square di pusat kota.

Sedikitnya 10 orang tewas dan 35 lainnya mengalami luka, menurut laporan otoritas setempat saat itu.

'Rusia lagi, Rusia lagi'

Dèjá vu Omar tentang perang di Ukraina ini juga merupakan pertemuan kembali dengan pasukan Rusia, yang pernah melakukan serangan udara dan operasi militer dalam perang saudara di Suriah sejak September 2015.

Bersama dengan pasukan Hezbollah Lebanon, dan Iran, Rusia merupakan pendukung jangka panjang Presiden Suriah Bashar al-Assad, yang menggantikan peran ayahnya, Hafez setelah meninggal pada 2000.

Rusia punya basis militer di Suriah sebelum perang dimulai. Ketika pemerintah Rusia mengatakan serangan militernya hanya menargetkan "kelompok teroris", namun para aktivis mengatakan mereka secara berkala membunuh pemberontak arus utama dan warga sipil.

"Saya tahu, kekejaman dan kekerasan dari agresi Rusia," kata Omar kepada BBC.

Hampir 12.000 anak-anak tewas atau mengalami luka karena perang Suriah, menurut Unicef, badan PBB yang menangani anak-anak.

Kelompok pengawas dari Violations Documentation Centre yang mendapat informasi dari aktivis di seluruh Suriah, mencatat apa yang disebut mempertimbangkan pelanggaran hukum humaniter internasional dan hukum hak asasi manusia, termasuk serangan terhadap warga sipil.

Kelompok ini mendokumentasikan 226,374 korban jiwa akibat perang, termasuk 135,634 warga sipil pada Desember 2020.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement