4. Kidung Ranggalawe
Ranggalawe merupakan seorang pengikut yang memiliki perjuangan besar dalam mendirikan Kerajaan Majapahit. Diceritakan dalam Kidung Ranggalawe, atas jasa-jasanyalah Ranggalawe diangkat sebagai Bupati Tuban yang dulunya ialah pelabuhan utama Jawa Timur. Dalam kitab ini juga dijelaskan pemberontakan Ranggalawe yang terjadi di Sungai Tambak Beras, Jombang.
Raden Wijaya memerintahkan Nambi, Kebo Anabrang, dan Lembu Sora memimpin pasukan Majapahit menuju Tuban untuk menghukum Ranggalawe. Dalam pertarungan di derasnya arus sungai, Ranggalawe mengembuskan napas terakhir akibat dicekik Kebo Anabrang. Lembu Sora, paman Ranggalawe, membalas kematian keponakannya itu dengan menikam Kebo Anabrang.
Jenazah Adipati Ranggalawe dan Kebo Anabrang itu disucikan, dibakar dan abunya dibuang ke laut. Kidung Ranggalawe ini jelas menceritakan pemberontakan tersebut terjadi pada masa pemerintahan Raden Wijaya, sementara Kitab Pararaton menyebutkan peristiwa itu terjadi pada tahun 1295, sesudah kematian Raden Wijaya.
5. Kitab Calon Arang
Calon Arang merupakan sosok perempuan yang memiliki ilmu hitam yang sakti. Setiap ia marah, selalu berbicara dengan teluh. Pada masa pemerintahan Raja Airlangga, situasi Kediri saat itu mencekam. Siapa pun yang terkena teluh Calon Arang, kematian akan segera menghampirinya.
Digambarkan dalam kitab ini, datangnya kematian itu bahkan hanya dengan gejala panas dingin di pagi hari dan meninggal saat siang. Bahkan yang lebih menyeramkan, usai menggotong jenazah, orang-orang bisa tiba-tiba ambruk dan meninggal. Penduduk setempat menamainya dengan pagebluk, wabah penyakit yang bersumber dari murka Calon Arang.
Calon Arang punya seorang anak perempuan yang cantik jelita, tapi tak ada satu pun lelaki yang berani mendekatinya. Warga desa kemudian menyebutnya perempuan yang tidak laku. Hal ini menimbulkan murka Calon Arang, sehingga ia meneluh seluruh warga desa. Raja Airlangga pun turun tangan dan melakukan ritual pemujaan kepada Sang Hyang Agni dan meminta petunjuk. Selepas ritual pemujaan itu, Raja mendapat petunjuk untuk memerintahkan Mpu Baradah menghabisi Calon Arang.
(Angkasa Yudhistira)