Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Prabu Siliwangi ke Sunan Gunung Jati: Tidak Boleh Ada Matahari Kembar di Pajajaran!

Aulia Oktavia Rengganis , Jurnalis-Kamis, 24 Maret 2022 |06:31 WIB
Prabu Siliwangi ke Sunan Gunung Jati: Tidak Boleh Ada Matahari Kembar di Pajajaran!
Sunan Gunung Jati. (Wikipedia)
A
A
A

KESUKSESAN Sunan Gunungjati (Syarif Hidayatullah) dalam mengembangkan sayapnya dalam syiar dakwah agama Islam bukan hanya berhasil di wilayah Pajajaran dan Banten saja.

Seiring berjalannya waktu, pengaruh Sunan Gunungjati pun makin meluas. Kadipaten Caruban Larung pun diubah menjadi Kasultanan Pakungwati oleh Sunan Gunungjati dengan gelar Sultan (Raja). Tak ayal, dengan memproklamirkan diri sebagai raja, ia merasa kedudukannya sederajat dengan kedudukan eyangnya, Prabu Siliwangi di Pajajaran.

Bahkan, jika sebelumnya Sunan Gunungjati selalu “asok glondhong pengareng-areng” yang artinya memberi persembahan kepada Prabu Siliwangi di Kerajaan Pajajaran, tetapi sejak berdirinya Kasultanan Pakungwati, maka Sunan Gunungjati tidak lagi mengirimnya.

Prabu Siliwangi pun murka atas perilaku cucunya itu. Sunan Gunungjati dianggap telah melakukan tindakan makar atau kudeta terhadap Pajajaran.

"Tidak boleh ada matahari kembar di Pajajaran!" demikian ujar Prabu Siliwangi geram terhadap cucunya, Sunan Gunungjati.

Tak peduli kepada cucu sendiri, namun karena merasa tersaingi, Prabu Siliwangi berencana menggempur Kasultanan Pakungwati. Sang Prabu memerintahkan kepada Ki Jagabaya agar membunuh atau menangkap hidup-hidup cucunya sendiri yaitu Syarif Hidayatullah alias Sunan Gunungjati.

Tetapi, bagaimana caranya Ki Jagabaya beserta para prajuritnya dapat mengalahkan prajurit Pakungwati, sedangkan dari Kasultanan Pakungwati sendiri memiliki banyak prajurit yang terlatih?

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement