RUSIA – Pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden yang mengatakan Presiden Rusia Vladimir Putin tidak bisa lagi berkuasa terus menjadi ‘bola panas’. Biden dan Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken telah menegaskan pernyataan itu hanya bermaksud Putin tidak bisa lagi berkuasa untuk memerangi negara lain, bukan berarti AS ingin mengubah rezim Rusia.
Putin diketahui telah menjadi pemimpin tertinggi Rusia sejak Boris Yeltsin mengundurkan diri pada 1999. Dmitry Medvedev menjabat sebagai Presiden dari 2008 hingga 2012 sementara Putin adalah perdana menteri sebelum kembali ke Kremlin.
Di bawah perubahan konstitusi yang disetujui pada 2020, Putin dapat mencalonkan diri untuk dua masa jabatan 6 tahun lagi sebagai Presiden, yang memungkinkan dia bisa tetap berkuasa hingga 2036.
Kremlin mengatakan Putin adalah pemimpin yang dipilih secara demokratis dan rakyat Rusia, bukan Washington, yang memutuskan siapa yang memimpin negara mereka.
Namun pernyataan Biden yang blak-blakan seperti itu tampaknya telah melanggar norma-norma hubungan AS-Rusia dan bahkan AS-Soviet. Tidak ada pemimpin AS yang secara terbuka menyerukan kepergian kepala Kremlin selama beberapa dekade.
Pernyataan itu tampaknya akan semakin memicu kekhawatiran di kalangan lingkaran terdekat Putin bahwa Washington ingin dia digulingkan dan untuk memaksakan pandangannya sendiri terhadap Rusia dan dunia.
Medvedev, yang sekarang menjabat sebagai Wakil Sekretaris Dewan Keamanan Rusia, mengatakan pada 23 Maret lalu bahwa dunia dapat berputar menuju distopia nuklir jika Washington melanjutkan apa yang disebut Kremlin sebagai plot jangka panjang untuk menghancurkan Rusia.
Medvedev melukiskan gambaran suram tentang Rusia pasca-Putin, dengan mengatakan hal itu dapat menyebabkan kepemimpinan yang tidak stabil di Moskow "dengan jumlah maksimum senjata nuklir yang ditujukan untuk sasaran di Amerika Serikat dan Eropa".
Kepala Dewan Keamanan Nikolai Patrushev, yang sebelumnya merupakan kepala badan mata-mata Federal Security Service, mengatakan Washington bertekad memicu "revolusi warna" di Rusia seperti yang terjadi di Georgia, Ukraina, dan negara-negara pasca-Soviet lainnya.
Para diplomat tinggi AS pada Minggu (27/3) berusaha ‘memadamkan’ komentar Biden. Biden, yang ditanya oleh seorang reporter ketika dia meninggalkan kebaktian gereja di Washington apakah dia menyerukan perubahan rezim di Rusia, memberikan jawaban satu kata: "Tidak."
Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan pada konferensi pers di Yerusalem bahwa Biden menyatakan bahwa Putin tidak dapat diberdayakan untuk berperang, menambahkan bahwa keputusan tentang kepemimpinan masa depan Rusia "terserah rakyat Rusia".
Sementara itu, Putin mengatakan "operasi militer khusus" Rusia di Ukraina diperlukan karena AS menggunakan negara itu untuk mengancam Rusia dan Moskow harus mengambil tindakan untuk menghentikan apa yang disebutnya penganiayaan Kyiv terhadap penutur bahasa Rusia. Ukraina telah menolak klaim penganiayaan sebagai dalih tak berdasar untuk menyerang.
(Susi Susanti)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.