Seketika selesainya operasi, Benny Murdani yang akhirnya ikut naik ke pesawat, menggunakan mic di kokpit pesawat, untuk melaporkan langsung pada Kepala Bakin (sekarang BIN), Yoga Sugomo.
“Pak Yoga, ini Benny,” teriak Benny di mic kokpit. “Neng endi kowe (di mana kamu?),” jawab Yugo.
“Di dalam pesawat, Pak”, timpal Benny lagi. “Jangan main-main kamu..,” sahut Yugo. “Saya memang di pesawat, sudah selesai semua, beres,” tuntas Benny.
Drama pembajakan empat hari tiga malam itu pun berakhir. Sintong Pandjaitan beserta anak-anak buahnya dianugerahi Bintang Sakti sepulangnya ke tanah air. Sementara Pembantu Letnan Achmad Kirang yang tertembak dan sempat dirawat di Rumah Sakit Bhumibol, menghembuskan nafas terakhir. Jasadnya dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta Selatan.
Aksi pasukan baret merah ini pun langsung mendapat pengakuan dunia internasional. Bahkan, Kopassandha disejajarkan dengan pasukan elite dunia seperti GSG 9 (Jerman) dan Mossad (Israel).
Surat kabar The Asian Wall Street Journal, tak segan menyematkan keberhasilan “Operasi Woyla”, 31 Maret 1981 di headline mereka,:
“Indonesia bukannya tidak layak diberikan pujian dan hormat yang sama dengan (pasukan) komando Israel dan Jerman Barat, untuk tindakan keberanian di Entebbe (Uganda) dan Mogadishu (Somalia). Sangat disayangkan karena ada poin yang lebih luas untuk dibuktikan (pasukan Indonesia),”.
“Yang pasti, butuh kemampuan militer tingkat tinggi untuk bisa menyelamatkan penumpang pesawat yang disandera tanpa menimbulkan satu pun korban jiwa. Sedari pembajakan sampai tembakan terakhir, jalannya operasi selama 60 jam membutuhkan organisasi dan perencanaan yang sangat baik, serta butuh keberanian, efisiensi dan disiplin,” lanjut Koran tersebut.
(Fahmi Firdaus )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.