"Mereka menggunakan orang sebagai tameng," katanya.
Rumah-rumah di desa menjadi bukti serangan artileri. Jendela telah diledakkan, dinding dibumbui dengan lubang dan bangunan telah dirusak oleh ledakan.
Di jalan menuju pemukiman ada konvoi empat truk yang hancur dan sebuah tank yang lumpuh.
Di dekat lapangan umum, ada truk lain yang hancur di dekat tempat tidur yang digali di tanah.
"Mereka ditempatkan di mana-mana di desa," terang Mykola Vareldzhan, 62.
"Mereka tahu ada anak-anak di sini, karena ketika mereka datang mereka berkeliling rumah, memeriksa dokumen,” tambahnya.
Menggunakan manusia sebagai ‘perisai’ atau tameng dilarang berdasarkan Konvensi Jenewa, kode perilaku kemanusiaan internasional selama masa perang.