JAKARTA - Gerakan 30 September yang belakangan dilakukan PKI masih berlangsung. Seorang perwira yang dikirim ke Kostrad, Kapten Daryono akhirnya kembali.
Ia pun membenarkan bahwa Herman adalah utusan Soeharto. Maka, senjata dan perlengkapannya diserahkan kembali. Sebelum zuhur, Sarwo dan Herman berangkat menemui Soeharto mengendarai kendaraan lapis baja.
Dikutip dari buku Sarwo Edhie dan Misteri 1965, di Markas Kostrad di Jalan Medan Merdeka Timur, Sarwo dan Soeharto membahas situasi. Sarwo, yang mempunyai pasukan organik, menyatakan siap bergerak mengamankan tempat-tempat vital.
Namun, hingga pukul satu, belum ada komando melancarkan aksi. Tanpa sepengetahuan Soeharto, Sarwo memerintahkan pasukan baret merah Kopassus bergerak ke Kostrad.
Baca juga: Saat Sintong Dimarahi Habis-habisan oleh Sarwo Edhie Usai Pertempuran
Perjalanan dari Cijantung ke Medan Merdeka Timur tak mendapat rintangan. Di Markas Kostrad, mereka mengambil posisi siaga satu. Baru pada sore hari Soeharto memerintahkan untuk merebut RRI dan Kantor Telekomunikasi.
Batalyon 454/Diponegoro dan 530/Brawijaya, yang menjaga kedua tempat itu, telah menyingkir, yang tinggal hanya Pemuda Rakyat - organisasi kepemudaan Partai Komunis Indonesia.
Baca juga: Terjunkan Ribuan Pasukan saat Aksi 11 April, Jenderal Kopassus: Tidak Bawa Senjata Api!
Kompi Tanjung ditugasi merebut RRI, sedangkan Kompi Urip menguasai Kantor Telekomunikasi. Begitu masuk jam malam, pukul 18.00, kedua kompi itu bergerak. Letnan Dua Sintong Panjaitan memimpin satu peleton menyerbu RRI.
Ketika mendekati sasaran, anak buahnya melepaskan tiga tembakan. Mendengar letusan, para anggota Pemuda Rakyat tunggang-langgang. Alhasil, tak sampai setengah jam, Sintong dan anak buahnya mengambil alih RRI.
Baca juga: Aksi 11 April, Jenderal Kopassus Turun Tangan Terjunkan Ribuan Personel TNI
(Fakhrizal Fakhri )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.