Share

Happy Ending! Suami Selamat dari Pembajakan di Laut dan Istri Selamat dari Perang Rusia-Ukraina

Susi Susanti, Okezone · Rabu 04 Mei 2022 12:42 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 04 18 2589140 happy-ending-suami-selamat-dari-pembajakan-di-laut-dan-istri-selamat-dari-perang-rusia-ukraina-EJdyNIaiRC.jpg Pasangan suami istri ini akhirnya bisa bersatu kembali usai dipisahkan konflik internasional (Foto: Jithina Jayakumar)

INDIA - Pasangan suami istri asal India ini akhirnya bersatu kembali di rumah mereka di negara bagian selatan Kerala setelah melalui dua konflik internasional yang terpisah selama empat bulan terakhir.

Akhil Reghu, 26, termasuk di antara tujuh pelaut India yang ditangkap setelah pemberontak Houthi membajak sebuah kapal kargo sipil di Laut Merah pada Januari lalu.

Reghu dan rekan-rekannya akhirnya dibebaskan pekan lalu setelah menghabiskan 112 hari dalam tahanan di Yaman.

 Baca juga: Sungguh Tega, Pasutri Ini Asyik Belanja Sementara Bayinya Ditinggal dalam Mobil

Sang istri, Jithina Jayakumar, 23 - yang sedang belajar kedokteran di Ukraina diketahui mulai mengirim email dan menelepon pejabat pemerintah untuk memastikan kepulangan sang suami dengan selamat.

Tetapi begitu Rusia menginvasi Ukraina pada bulan Februari, dia menghadapi cobaan lain. Yakni mencoba meninggalkan negara yang dilanda perang dengan aman sambil tetap mempertahankan usahanya.

Baca juga: Wanita Ini Izinkan Suaminya Punya Banyak Pacar dan Menghamili Perempuan Lain

Sekarang, keduanya kembali ke distrik Kochi di Kerala, tempat ayahnya dirawat karena kanker.

"Saya tidak tahu bagaimana mengungkapkannya. Empat bulan ini terasa seperti antara hidup dan mati," kata Jayakumar kepada BBC Hindi.

Baca Juga: Salurkan BLT BBM kepada 20,65 Juta KPM, Ini Strategi Pos Indonesia

Reghu dan Jayakumar menikah di Kerala Agustus lalu. Sebulan kemudian, Reghu bergabung dengan Rwabee, sebuah kapal kargo berbendera Uni Emirat Arab, sebagai kadet geladak.

Sementara itu, Jayakumar kembali ke Universitas Kedokteran Kyiv, di mana dia menjadi mahasiswa tahun keenam.

Pada pagi hari 2 Januari lalu, awak kapal Rwabee mendengar tembakan dari buritan kapal.

"Sekitar 40 orang dengan perahu kecil telah mengepung kapal. Mereka semua naik ke kapal. Saat itulah kami menyadari kapal telah dibajak," kata Sreejith Sajeevan, seorang awak di kapal itu dan salah satu rekan tawanan Reghu, kepada BBC Hindi. Reghu terlalu trauma untuk berbicara tentang pengalaman itu.

Pemberontak Houthi merebut Rwabee karena mereka mengira membawa perlengkapan militer ke Arab Saudi. Diketahui Yaman mengalami konflik antara pemerintah resmi yang didukung Saudi dan pemberontak selama lebih dari tujuh tahun.

Sajeevan mengatakan para penculik memindahkan 11 anggota kru bolak-balik setiap 15 hari antara kapal dan sebuah hotel di ibu kota Yaman, Sanaa.

"Kami ditahan di suite dengan satu kamar mandi dan tidak diizinkan untuk keluar. Tapi mereka memberi tahu kami bahwa kami dapat memesan apa pun yang ingin kami makan dari kartu menu," terangnya.

Mereka tetap berada di dalam ruangan melalui sebagian besar penangkaran mereka, hanya mendapatkan sedikit sinar matahari ketika mereka berada di kapal.

Para sandera ketakutan dengan pemboman di kota Sanaa, yang dikendalikan oleh Houthi.

"Kami melihat di TV bahwa sebuah sekolah dibom hanya 100 meter dari hotel kami," lanjutnya.

Selama dua bulan pertama, para tawanan diizinkan untuk berbicara dengan keluarga mereka di telepon setiap 25 hari sekali. Kemudian dikurangi menjadi dua minggu sekali.

Sajeevan mengatakan para penculik awalnya agresif tetapi menjadi lebih santai ketika mereka menyadari para sandera "tidak bersalah". Salah satu pemberontak, yang berbicara bahasa Inggris, akan menerjemahkan antar kelompok.

"Setiap kali kami bertanya kepada mereka kapan kami akan dibebaskan, mereka hanya akan mengatakan Insya Allah," ujarnya.

Sementara itu, di Kyiv, Jayakumar menyadari ada yang tidak beres ketika suaminya tidak menjawab teleponnya selama berhari-hari.

Dia baru mengetahui kemudian dari kakak laki-lakinya, yang bekerja di perusahaan pelayaran yang sama, bahwa kapal itu telah dibajak.

Jayakumar pun segera bergerak mencari bantuan. Dia menghubungi pejabat pemerintah di India untuk mencari bantuan bagi suaminya. Lalu teman-temannya memasak untuknya dan memberikan dukungan.

Ketika perang dimulai, Jayakumar dan teman-temannya terpaksa berlindung di bunker bawah tanah. Dengan ketidakpastian evakuasi warga meninggalkan Kyiv, Jayakumar merasa harapannya meredup.

"Saya merasa tidak ada yang bisa mengeluarkan kita dari sana," katanya.

Di Yaman, suaminya melihat berita perang di TV dan menjadi sangat khawatir.

"Ketika kami berbicara dengan keluarga kami, kami menyadari bahwa itu adalah situasi yang sangat sulit. Kami tidak tahu apa yang terjadi," kata Sajeevan.

Akhirnya, Jayakumar berhasil meninggalkan Ukraina sekitar minggu kedua bulan Maret lalu, melakukan perjalanan pertama dengan kereta api ke Hungaria dan kemudian terbang ke India.

Ketika sampai di rumah, dia melanjutkan upayanya untuk menghubungi petugas agar suaminya dibebaskan.

Dia mengatakan Ramachandran Chandramouli, duta besar India untuk Djibouti – tempat kedutaan India di Sanaa untuk sementara beroperasi - adalah sumber dukungan yang besar baginya.

"Dia berhubungan dengan semua keluarga. Kami bisa menghubunginya kapan saja. Dia mengatakan kepada kami bahwa mereka akan dibebaskan tetapi itu akan memakan waktu," terangnya.

Pada April lalu, koalisi pimpinan Saudi dan pemberontak Houthi menyetujui gencatan senjata dua bulan ketika bulan suci Ramahan dimulai.

Pemerintah India kemudian berhasil - dengan bantuan Oman dan negara-negara lain - untuk membebaskan para pelaut.

Jayakumar mengatakan dia hanya membiarkan dirinya mempercayai berita itu ketika suaminya meneleponnya dari teleponnya sendiri.

Dia akhirnya tiba di Kerala minggu lalu dengan membawa kalung untuknya dan jambiya - belati tradisional Yaman - yang diberikan kepadanya oleh para penculiknya.

Kepulangan mereka terasa seperti "kelahiran kembali".

Sang istri mengatakan Reghu, sangat terpengaruh oleh pengalaman itu.

"Dia telah kehilangan banyak berat badan dan memiliki lingkaran hitam di sekitar matanya," katanya.

"Setiap kali saya merasa kesal, saya akan berdoa. Saya tidak membiarkan diri saya menangis karena orang tua kami akan lebih tertekan. Sebaliknya, saya menangis diam-diam di kamar mandi,"lalnjutnya.

"Saya tidak tahu bagaimana saya berhasil. Tapi saya memiliki keyakinan batin bahwa dia akan kembali,” tambahnya.

1
5

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini