Share

Amnesty International: Bukti Tunjukkan Pasukan Rusia Lakukan Kejahatan Perang di Ukraina

Susi Susanti, Okezone · Sabtu 07 Mei 2022 16:07 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 07 18 2590396 amnesty-international-bukti-tunjukkan-pasukan-rusia-lakukan-kejahatan-perang-di-ukraina-JPjJFmkXDP.jpg Amnesty International temukan bukti pasukan Rusia lakukan kejahatan perang di Ukraina (Foto: Reuters)

KYIV - Amnesty International mengatakan pada Jumat (6/5/2022) ada bukti kuat bahwa pasukan Rusia telah melakukan kejahatan perang, termasuk eksekusi di luar hukum terhadap warga sipil, ketika mereka menduduki sebuah daerah di luar ibukota Ukraina pada Februari dan Maret lalu.

Kelompok hak asasi manusia (HAM) dalam sebuah laporan mengatakan warga sipil juga mengalami pelanggaran seperti "penembakan dan penyiksaan " di tangan pasukan Rusia selama serangan gagal mereka di Kyiv pada tahap awal invasi yang diluncurkan Kremlin pada 24 Februari lalu.

"Ini bukan insiden yang terisolasi. Ini adalah bagian dari pola di mana pasukan Rusia mengendalikan sebuah kota atau desa," terang Donatella Rovera, penasihat senior tanggap krisis Amnesty, saat konferensi pers di Kyiv.

“Informasi yang dikumpulkan oleh kelompok dapat digunakan, mudah-mudahan, untuk meminta pertanggungjawaban pelaku, jika tidak hari ini, suatu hari nanti,” lanjutnya.

Baca juga: Amnesty International: Invasi Rusia ke Ukraina Adalah Pengulangan Perang Suriah

Rovera mengatakan dia mengumpulkan di Bucha peluru penusuk lapis baja dan selongsong peluru yang diproduksi di sebuah pabrik di Tula, selatan Moskow, untuk senapan yang hanya digunakan oleh unit elit angkatan udara Rusia yang kehadirannya di Bucha Amnesty telah dikonfirmasi.

Baca juga: Menlu Ukraina: Arsip Online Kejahatan Perang Rusia Dikumpulkan, Para Penjahat Tidak Bisa Melarikan Diri

"Kami juga menemukan dan dapat melihat beberapa dokumen militer yang menunjukkan keberadaan unit khusus ini di tempat-tempat di mana kejahatan ini dilakukan," katanya.

Laporan Amnesty adalah yang terbaru untuk mendokumentasikan dugaan kejahatan perang yang dilakukan oleh pasukan Rusia ketika mereka menduduki daerah barat laut Kyiv, termasuk kota Bucha, di mana pihak berwenang Ukraina mengatakan lebih dari 400 warga sipil tewas. Moskow menarik pasukannya pada awal April lalu.

Laporan tersebut menyimpulkan bahwa pasukan Rusia telah melakukan "sejumlah kejahatan perang yang nyata" di Bucha, termasuk "banyak pembunuhan di luar hukum", kebanyakan dari mereka di dekat persimpangan jalan Yablunska dan Vodoprovidna.

Investigasi Reuters yang diterbitkan pada Kamis (5/5/2022) mendokumentasikan petunjuk, termasuk kesaksian dan bukti yang difokuskan di Jalan Yablunska, untuk identitas individu tentara Rusia dan unit militer yang hadir di Bucha.

Unit-unit itu termasuk Divisi Serangan Udara Pengawal ke-76, yang menurut laporan Amnesty juga ada di kota itu.

Amnesty mengatakan telah mendokumentasikan 22 kasus pembunuhan di luar hukum oleh pasukan Rusia - "sebagian besar merupakan eksekusi di luar hukum" - di Bucha dan daerah sekitarnya.

Amnesty juga mengatakan dalam laporannya serangan udara Rusia yang menghantam delapan bangunan tempat tinggal pada 1-2 Maret di kota Borodyanka, menewaskan sedikitnya 40 warga sipil, adalah "tidak proporsional dan tidak pandang bulu, dan jelas merupakan kejahatan perang".

"Pasukan Rusia tidak dapat secara kredibel mengklaim bahwa mereka tidak menyadari bahwa warga sipil tinggal di gedung-gedung yang menjadi sasaran," katanya.

Sementara itu, saat ditanya Reuters sebelum laporan Amnesty tentang operasi Rusia di Bucha, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan cerita Bucha adalah set-up dan palsu.

Rusia, yang menyebut invasinya sebagai "operasi khusus" untuk melucuti senjata Ukraina dan melindunginya dari fasis, menyangkal pasukannya melakukan pelanggaran. Kyiv dan pendukung Baratnya mengatakan klaim fasisme adalah dalih palsu untuk perang agresi yang tidak beralasan.

Adapun pihak berwenang Ukraina mengatakan mereka sedang menyelidiki lebih dari 9.000 potensi kejahatan perang oleh pasukan Rusia. Pengadilan Kriminal Internasional juga menyelidiki dugaan kejahatan perang.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini