Share

Pemimpin Sekte yang Pengikutnya Makan Kotoran dan Minum Urine Ditangkap, Polisi Temukan 11 Mayat

Rahman Asmardika, Okezone · Rabu 11 Mei 2022 13:00 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 11 18 2592301 pemimpin-sekte-yang-pengikutnya-makan-kotoran-dan-minum-urine-ditangkap-polisi-temukan-11-mayat-iD8C1bZ1FX.jpg Thawee Nanra ditangkap polisi setelah empat tahun membangun sekte di hutan Provinsi Chaiyaphum, Thailand. (Foto: Viralpress)

BANGKOK – Seorang pemimpin sekte yang tinggal di hutan dengan pengikutnya yang menyembah mayat dan mengonsumsi kotoran dan air seninya telah ditangkap oleh polisi. Penangkapan itu dilakukan setelah polisi menemukan 11 mayat di kamp hutan dimana dia dan pengikutnya tinggal.

Rumah jerami Thawee Nanra, (75 tahun), dari Provinsi Chaiyaphum, Thailand, digerebek oleh polisi awal pekan ini.

BACA JUGA: 7 Sekte Paling Berbahaya di Dunia, Halalkan Zina dengan Anak Kecil hingga Bunuh Diri Massal

Pendukung berteriak dan berdesak-desakan dengan petugas dalam adegan kacau saat mereka mencoba menyelamatkan pemimpin mereka, pria berjanggut dan bertelanjang dada yang mengaku sebagai 'bapak semua agama', sebelum dia dibawa ke mobil polisi.

Polisi mengatakan mereka menemukan 11 mayat di tempat itu, yang menurut media lokal diyakini sebagai jasad para pengikut Thawee, demikian dilaporkan Daily Mail.

Thawee mengatakan dia menyimpan mayat-mayat itu untuk menunggu arwah mereka kembali ke surga.

Gubernur Provinsi Chaiyaphum, Kraisorn Kongchalad mengatakan Thawee memiliki setidaknya selusin pengikut yang tinggal bersamanya, sementara peti mati berisi mayat berserakan di sekitar rumah.

Para penyembah dilaporkan mengatakan kepada pihak berwenang bahwa air seni dan dahak sang pemimpin diyakini sebagai obat untuk penyakit.

BACA JUGA: Cerita Pimpinan Sekte di AS yang Dijadikan Mumi Berhias Lampu Natal

Lima peti mati ditemukan di luar tempat penampungan, salah satunya adalah bayi yang mati dan yang lainnya, ibunya yang sudah meninggal. Semua peti mati dibor untuk memungkinkan cairan getah bening mengalir keluar.

Thawee mengatakan kepada petugas bahwa semua pengikutnya ada di sana dengan sukarela.

“Saya tidak memaksa siapa pun untuk tinggal di sini atau melakukan apa pun yang tidak mereka inginkan,” kata Thawee.

Mana, (45), salah seorang pengikut Thawee mengatakan bahwa mereka tinggal di tempat itu dengan persetujuan dari kerabatnya.

“Kami memiliki dokumen yang menunjukkan bahwa kerabat telah memberikan persetujuan dengan sertifikat kematian. Beberapa dari mereka telah berlatih meditasi di tempat ini,” kata Mana.

“Untuk penguburannya, kami mengikuti proses dari tim medis. Tubuh dimasukkan ke dalam kantong tertutup dan disuntik dengan formaldehida untuk mencegah mayat membusuk.”

Pihak berwenang percaya kelompok itu ada selama lebih dari empat tahun tanpa ada yang menyadarinya karena lokasi rumah hutan sang pemimpin yang terpencil.

Namun anonimitas mereka berakhir setelah seorang putri dari salah satu pengikutnya mengadu kepada seorang selebriti media sosial yang berspesialisasi mengekspos tokoh agama yang tidak bermoral.

Khun Jenjira, (53), dari Provinsi Khon Kaen, juga mengeluh kepada pejabat bahwa ibunya yang berusia 80 tahun berada di kamp hutan Thawee dan dilarang pulang ke rumah.

“Saya pergi mengunjungi ibu saya. Saya melihat bagaimana perempuan dipaksa untuk mengikuti aturan berpakaian dengan mengenakan sarung selutut dan laki-laki harus memakai celana formal. Semua orang harus melepas sepatu mereka sebelum memasuki situs,” kata Khun.

Tapi yang lebih mengejutkan adalah saya melihat ibu saya menggosokkan dahak pemimpin di wajahnya dan memakan ketombe pria itu. Ada 11 mayat umat di tempat itu. Ibu saya juga telah menginstruksikan saya untuk meninggalkan mayatnya di tempat yang sama.

“Para pengikut menentang semua aturan Covid. Mereka mengatakan bahwa, setelah Anda mengabdikan hidup Anda untuk mengikuti ajaran pria itu, Anda akan aman dari Covid-19.”

Thawee awalnya didakwa melanggar batas kawasan hutan, rumahnya dikatakan berada di lahan publik, dan pertemuan ilegal dilarang berdasarkan undang-undang pengendalian penyakit yang telah digunakan dalam dua tahun terakhir untuk memerangi Covid.

Media lokal melaporkan bahwa dia ditolak jaminan pada Senin (9/5/2022).

Polisi mengatakan mereka sedang menyelidiki tuduhan lain, termasuk pembuangan mayat secara tidak sah.

Kraisorn mengatakan dia terkejut menemukan praktik seperti itu masih berlangsung di zaman modern.

“Sangat mengganggu melihat ada orang yang percaya takhayul seperti itu. Tapi ini bukan hanya tentang kepercayaan pribadi lagi.

"Kami memiliki mayat, dan kami harus bekerja dengan semua lembaga untuk menetapkan fakta seputar orang-orang ini," katanya melalui telepon.

Penduduk Thailand sangat banyak beragama Buddha, tetapi banyak orang menganut kepercayaan di luar agama tersebut, seperti pemujaan roh lokal dan ketakutan akan hantu.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini