Share

Sebut Momen Penting dalam Keamanan Eropa, Biden: AS Dukung Penuh Swedia dan Finlandia Masuk NATO

Susi Susanti, Okezone · Jum'at 20 Mei 2022 11:14 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 20 18 2597238 sebut-momen-penting-dalam-keamanan-eropa-biden-as-dukung-penuh-swedia-dan-finlandia-masuk-nato-KmuHCn9wvn.jpg Presiden AS Joe Biden dukung penuh Swedia dan Finlandia jadi anggota NATO (Foto: AP)

WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengatakan Swedia dan Finlandia mendapat dukungan penuh, total dan lengkap dari AS dalam keputusan mereka untuk mengajukan keanggotaan di Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Kedua negara diketahui mengajukan aplikasi mereka untuk menjadi bagian dari aliansi pertahanan Barat minggu ini, menandai perubahan besar dalam geopolitik Eropa.

"Anggota baru yang bergabung dengan NATO bukanlah ancaman bagi negara mana pun," katanya. Presiden menambahkan bahwa memiliki dua anggota baru di "utara tinggi" akan "meningkatkan keamanan sekutu kami dan memperdalam kerja sama keamanan kami di seluruh bidang".

Berbicara bersama Perdana Menteri Swedia Magdalena Andersson dan Perdana Menteri Finlandia Sauli Niinisto di Gedung Putih pada Kamis (19/5/2022), Biden menyebut aplikasi Swedia dan Finlandia "momen penting dalam keamanan Eropa".

Baca juga: Finlandia dan Swedia Resmi Mendaftarkan Diri Jadi Anggota NATO

Untuk bergabung dengan aliansi, kedua negara membutuhkan dukungan dari 30 negara anggota NATO. Namun langkah negara-negara Nordik ditentang oleh Turki.

Turki menuduh Swedia dan Finlandia menampung tersangka militan dari Partai Pekerja Kurdistan (PKK), sebuah kelompok yang dianggapnya sebagai organisasi teroris.

Baca juga: Putin: Swedia dan Finlandia Bergabung ke NATO Bukan Ancaman Langsung Bagi Rusia

Sementara itu, Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg dan Menteri Pertahanan Inggris Ben Wallace telah menyatakan keyakinannya bahwa kekhawatiran ini pada akhirnya akan ditangani.

Baca Juga: KKP Pastikan Proses Hukum Pelaku Perdagangan Sirip Hiu Ilegal di Sulawesi Tenggara

Rusia telah berulang kali mengatakan mereka melihat NATO sebagai ancaman dan telah memperingatkan "konsekuensi" jika blok itu berlanjut dengan rencana ekspansinya.

Komentar Biden muncul saat Senat AS memilih untuk menyetujui RUU baru senilai USD40 miliar (Rp587 triliun) untuk memberikan bantuan militer dan kemanusiaan ke Ukraina. Ini adalah paket bantuan darurat terbesar sejauh ini untuk Ukraina.

RUU yang disahkan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dengan dukungan bipartisan luas pada 10 Mei lalu ini diharapkan akan disahkan awal pekan ini, tetapi diblokir oleh Rand Paul dari Partai Republik Kentucky atas perselisihan tentang pengawasan pengeluaran.

Tetapi pemimpin Senat Republik Mitch McConnell menepis kekhawatiran ini dan mengatakan kepada wartawan bahwa Kongres memiliki "tanggung jawab moral" untuk mendukung "pertahanan demokrasi yang berdaulat".

"Siapa pun yang khawatir tentang biaya untuk mendukung kemenangan Ukraina harus mempertimbangkan biaya yang jauh lebih besar jika Ukraina kalah," ujarnya.

Pekan lalu, Menteri Pertahanan Lloyd Austin dan Menteri Luar Negeri Antony Blinken mendesak Kongres untuk menyetujui paket tersebut dan memperingatkan bahwa militer AS hanya memiliki cukup dana untuk mengirim senjata ke Kyiv hingga 19 Mei.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky memuji paket bantuan itu sebagai "kontribusi signifikan AS bagi pemulihan perdamaian dan keamanan di Ukraina, Eropa, dan dunia".

Paket tersebut membawa total bantuan AS yang dikirim ke Ukraina menjadi lebih dari USD50 miliar (Rp733 triliun), termasuk USD6 miliar (Rp88 triliun) untuk bantuan keamanan seperti pelatihan, peralatan, senjata, dan dukungan.

Adapun bantuan USD8,7 miliar (Rp128 triliun) lainnya akan dialokasikan untuk mengisi kembali persediaan peralatan AS yang telah dikirim ke Ukraina.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini