Presiden Soekarno kemudian memerintahkan pembentukan Komite Pembebasan Vietnam Selatan dengan membuka kantor perwakilannya di Jakarta. Bukan hanya memberikan bantuan fasilitas, Indonesia juga memberikan bantuan keuangan.
Lalu, Indonesia juga sempat melobi dunia dan mengampanyekan pendirian anti invasi Amerika Serikat di Vietnam Selatan secara internasional.
Pada 4 Maret 1959, atas usul Soekarno, Ho Chi Minh mendapatkan gelar doktor honoris causa dari Universitas Padjadjaran di Bandung.
Kedatangan Ho Chi Minh di Bandung juga bersamaan dengan peresmian nama Institut Teknologi Bandung (ITB) yang semula bernama Universitas Indonesia Bandung pada 27 Februari 1959. Selain ke Bandung, Ho juga mengunjungi Jakarta hingga 8 Maret 1959.
Melalui foto-foto yang tersebar, Paman Ho terlihat diterima hangat oleh Soekarno dan rakyat Indonesia. Salah satu foto yang dikenang adalah momen Ho menari bersama perempuan Indonesia.
Wujud kedekatan kedua pemimpin bangsa Asia ini kembali terlihat jelas karena hanya berselang tiga bulan setelah kedatangan Ho Chi Minh di Jakarta, Soekarno melakukan kunjungan balasan ke Hanoi pada 24-29 Juni 1959.
Perjumpaan keduanya kala itu menandai dimulainya hubungan bilateral antara Indonesia-Vietnam yang hingga kini tetap terjaga.
Malahan pada akhir 1965, saat kekuasaan Soekarno berada di ujung tanduk, Indonesia masih sempat dilaksanakan Konferensi Internasional Anti Pangkalan-Pangkalan Militer Asing, yang salah satu agendanya membahas mengenai agresi Amerika Serikat ke Vietnam.
Demikianlah hubungan karib antara dua pemimpin yang paling dikenang di Asia Tenggara ini yang memiliki banyak kemiripan.