JAKARTA - Krisis pangan sudah ada di depan mata, yang diakibatkan oleh perang berkepanjangan antara Rusia dan Ukraina. Menghadapi hal ini, Presiden Indonesia Joko Widodo menyatakan bahwa Indonesia harus secepat mungkin membangun sistem pertanian modern yang ramah lingkungan.
BACA JUGA: Kremlin Salahkan Sanksi Rusia Picu Krisis Pangan Global, Bukan Perang
Namun, siapa sajakah tokoh dunia yang awalnya menyebut jika dunia akan alami krisis pangan? Ini informasinya, sebagaimana dirangkum Tim Litbang MPI:
1. Antonio Guterres
Ketegangan yang terjadi antara Rusia dan Ukraina disebut akan menimbulkan krisis pangan global. Hal tersebut diungkapkan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres. Melansir Arab News, Guterres mengimbau untuk melakukan tindak cepat dalam penyediaan bahan pangan demi mengatasi ancaman serius ini.
Berbicara di Stockholm, Guterres menekankan bahwa perang harus segera berakhir agar tak semakin luas menciptakan kerugian. Tidak hanya dari sisi pangan, ketegangan antara dua negara ini juga berdampak pada lini ekonomi dan keuangan global.
BACA JUGA: Krisis Pangan Global, Perang Rusia-Ukraina Jadi 'Kambing Hitam'
2. Volodymyr Zelensky
Ancaman krisis pangan dunia juga diungkapkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Peluang krisis pangan itu terjadi lantaran ekspor gandum dari Ukraina terganggu. Zelensky mengeklaim Ukraina sebagai salah satu negara pengekspor produk pertanian terbesar dan sedang mengalami gangguan signifikan selama konflik ini. Pelabuhan Mariupol, yang merupakan pelabuhan pusat ekspor gandum dan jagung, kini berhenti beroperasi.
3. Svein Tore Holsether
CEO perusahaan produsen pupuk Yara International, Svein Tore Holsether, turut mengemukakan pandangannya terkait perang Ukraina-Rusia yang berimbas pada ancaman krisis pangan. Menurut Holsether, seluruh negara harus bersiap menghadapi risiko yang ada. Holsether juga menekankan bahwa seluruh pihak wajib memastikan, seberapa parah krisis pangan yang akan dialami.
Yara International telah mengurangi jumlah ekspor amonia dan ureanya ke Eropa sampai 45%. Hal itu tentunya akan berimbas pada petani yang kesulitan menanam komoditasnya. Sehingga, jumlah produk pertanian mengalami penurunan.
(Rahman Asmardika)