Share

Kremlin Salahkan Sanksi Rusia Picu Krisis Pangan Global, Bukan Perang

Susi Susanti, Okezone · Selasa 24 Mei 2022 13:40 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 24 18 2599384 kremlin-salahkan-sanksi-rusia-picu-krisis-pangan-global-bukan-perang-U2dlG1eTKk.jpg Kremlin salahkan sanksi Rusia picu krisis pangan global (Foto: Sky News)

RUSIA Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan kepada wartawan, Senin (23/5/2022), sanksi yang dijatuhkan ke Rusia adalah penyebab sebenarnya krisis pangan global yang membayangi, bukan invasi Rusia.

Dia mengatakan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin setuju dengan pendapat Sekretaris Jenderal Persekutuan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres bahwa ada risiko kelaparan global.

"Itu benar. Tetapi ketika berbicara tentang gandum, presiden mengatakan bahwa sanksi dan pembatasan yang dikenakan menyebabkan keruntuhan yang sekarang kita saksikan,” terangnya.

Peskov mencatat bahwa baik Rusia maupun Ukraina selalu menjadi pengekspor biji-bijian yang dapat diandalkan dan bahwa Moskow sama sekali tidak mencegah Kiev mengekspor biji-bijian ke Polandia dengan kereta api. Dia juga menekankan bahwa ketika Polandia mengirim senjata melalui kereta api ke Kiev, tidak ada yang mencegah mereka mengekspor gandum kembali dengan kereta yang sama.

Baca juga: Menlu AS Tuduh Rusia Gunakan Makanan Sebagai Senjata Perang di Ukraina, Rusia: Tuduhan Salah Alamat!

Mengenai transportasi laut, juru bicara Kremlin menuduh pasukan Ukraina menanam ranjau laut di Laut Hitam. Menurut Peskov, tindakan seperti itu membuat perdagangan dan pengiriman "hampir tidak mungkin" dan tindakan khusus perlu diambil untuk melanjutkan navigasi.

Baca juga: Krisis Pangan Global, Perang Rusia-Ukraina Jadi 'Kambing Hitam'

“Dan kalau soal jalur alternatif, sekali lagi, kita bukan sumber masalah yang menyebabkan ancaman kelaparan dunia. Sumber masalah ini adalah mereka yang menjatuhkan sanksi, dan sanksi itu sendiri,” klaimnya.

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Andrey Rudenko mengatakan bahwa tuduhan bahwa Moskow memblokir ekspor gandum Ukraina di pelabuhan Laut Hitam, sehingga menyebabkan defisit di pasar gandum, "tidak lebih dari spekulasi."

“Semua tindakan pembatasan yang diberlakukan terhadap ekspor Rusia harus dibatalkan,” ujarnya.

Awal bulan ini, Wakil Ketua Dewan Keamanan Dmitry Medvedev menekankan bahwa Rusia tidak akan mengekspor makanan yang merugikan penduduknya sendiri. Mengacu pada sanksi anti-Rusia, mantan Presiden Rusia itu juga mengatakan bahwa Barat dapat menyalahkan “kretinisme kosmik”-nya sendiri atas krisis pangan yang mengancam.

Amerika Serikat (AS), Inggris, Uni Eropa dan banyak negara lain telah menjatuhkan hukuman berat kepada Rusia sebagai tanggapan atas operasi militernya di Ukraina. Menurut Guterres, serangan Rusia di negara tetangga itu telah menambah masalah yang sudah mempengaruhi situasi di pasar pangan, yaitu perubahan iklim dan dampak dari pandemi Covid-19.

Guterres meminta Moskow untuk berhenti memblokir ekspor makanan dari pelabuhan Ukraina tetapi pada saat yang sama menjelaskan bahwa pupuk dan produk makanan dari Rusia harus diizinkan untuk mencapai pasar dunia tanpa hambatan.

Rusia dan Ukraina diketahui pemasok gandum utama, yang menyumbang sekitar 30% dari ekspor global. Harga telah meningkat secara signifikan sejak peluncuran serangan militer Rusia dan sanksi berikutnya yang dikenakan pada Moskow.

Guterres dan Medvedev menyebutkan fakta bahwa Rusia, Ukraina, dan Belarusia adalah pemimpin dalam produksi pupuk juga memperburuk situasi di pasar pangan global.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini