Share

Peringatkan AS, China Tidak Ragu Mulai Perang jika Taiwan Deklarasikan Kemerdekaan

Susi Susanti, Okezone · Sabtu 11 Juni 2022 18:40 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 11 18 2609846 peringatkan-as-china-tidak-ragu-mulai-perang-jika-taiwan-deklarasikan-kemerdekaan-Micey74wh6.jpg Menhan China Jenderal Wei Fenghe (Foto: AP)

SINGAPURA – Menteri Pertahanan (Menhan) China Wei Fenghe memperingatkan mitranya dari Amerika Serikat (AS) pada Jumat (10/6/2022), jika Beijing tidak akan ragu untuk memulai perang jika Taiwan mendeklarasikan kemerdekaan.

Peringatan itu datang ketika Fenghe mengadakan pertemuan tatap muka pertamanya dengan Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin di sela-sela KTT keamanan Dialog Shangri-La di Singapura.

Ketegangan AS-China telah meningkat di Taiwan yang demokratis dan memiliki pemerintahan sendiri, yang hidup di bawah ancaman invasi terus-menerus oleh China. Beijing memandang pulau itu sebagai wilayahnya dan berjanji suatu hari akan merebutnya, dengan paksa jika perlu.

Juru bicara kementerian pertahanan Wu Qian mengutip pernyataan menteri dalam pertemuan tersebut, Wei memperingatkan Austin bahwa "jika ada yang berani memisahkan Taiwan dari China, tentara China pasti tidak akan ragu untuk memulai perang berapa pun biayanya".

Baca juga: Bantu Kapal Perang Taiwan, AS Setuju Penjualan Suku Cadang Senilai Rp1,7 Triliun

Menurut kementerian pertahanan China., Menteri Wei bersumpah bahwa Beijing akan "menghancurkan hingga berkeping-keping setiap plot 'kemerdekaan Taiwan' dan dengan tegas menjunjung tinggi penyatuan tanah air."

Baca juga: Pamer Kekuatan Militer di Dekat Taiwan, China Angkat Bicara

Kementerian menegaskan Wei "menekankan bahwa Taiwan adalah Taiwan China, sehingga menggunakan Taiwan untuk menahan China tidak akan pernah berhasil."

Sementara itu, menurut Departemen Pertahanan AS Austin menegaskan kembali pentingnya perdamaian dan stabilitas di Selat (Taiwan), penentangan terhadap perubahan sepihak terhadap status quo, dan meminta (China) untuk menahan diri dari tindakan destabilisasi lebih lanjut terhadap Taiwan.

Baca Juga: KKP Pastikan Proses Hukum Pelaku Perdagangan Sirip Hiu Ilegal di Sulawesi Tenggara

Austin adalah pejabat senior AS terbaru yang mengunjungi Asia saat Washington berupaya mengalihkan fokus kebijakan luar negerinya kembali ke kawasan dari perang Ukraina.

Austin tiba di Singapura pada Kamis (9/6/2022), dan mengadakan serangkaian pertemuan dengan rekan-rekannya pada Jumat (10/6/2022).

Menurut sebuah pernyataan dari pemerintah Singapura, pada pertemuan dengan para menteri pertahanan Asia Tenggara, dia berbicara tentang strategi Washington dalam menjaga lingkungan keamanan regional yang terbuka, inklusif dan berdasarkan aturan.

Komentarnya adalah referensi terselubung untuk melawan meningkatnya ketegasan China di wilayah tersebut. Menurut rencana Austin akan menyampaikan pidato di forum itu pada Sabtu (11/6/2022) waktu setempat dan diikuti oleh Wei pada Minggu (12/6/2022).

KTT berlangsung dari 10 hingga 12 Juni dan berlangsung untuk pertama kalinya sejak 2019 setelah dua kali ditunda karena pandemi Covid-19.

Seperti diketahui, ketegangan di Taiwan telah meningkat, khususnya karena meningkatnya serangan pesawat China ke zona identifikasi pertahanan udara (ADIZ) pulau itu.

Presiden AS Joe Biden, selama kunjungan ke Jepang bulan lalu, tampaknya melanggar kebijakan AS selama beberapa dekade ketika, dalam menanggapi sebuah pertanyaan, dia mengatakan Washington akan membela Taiwan secara militer jika diserang oleh China.

Namun, Gedung Putih sejak itu bersikeras kebijakannya tentang "ambiguitas strategis" mengenai konflik China-Taiwan tidak akan berubah.

Seperti halnya di Taiwan, China dan AS sebelumnya telah beberapa kali terlibat dalam berbagai perselisihan lainnya.

Mereka berselisih soal invasi Rusia ke Ukraina, dengan Washington menuduh Beijing memberikan dukungan diam-diam untuk Moskow.

China telah menyerukan pembicaraan untuk mengakhiri perang, tetapi berhenti mengutuk tindakan Rusia dan telah berulang kali mengkritik sumbangan senjata Amerika ke Ukraina.

Klaim ekspansif China di Laut China Selatan juga telah memicu ketegangan dengan Washington.

Beijing mengklaim hampir semua laut yang kaya sumber daya, yang dilalui perdagangan pengiriman triliunan dolar setiap tahun, dengan klaim yang bersaing dari Brunei, Malaysia, Filipina, Taiwan, dan Vietnam.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini