Share

PBB: Konsumsi Ganja Melonjak karena Legalisasi dan Pandemi Covid-19, Picu Risiko Depresi serta Bunuh Diri

Susi Susanti, Okezone · Senin 27 Juni 2022 15:47 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 27 18 2619052 pbb-konsumsi-ganja-melonjak-karena-legalisasi-dan-pandemi-covid-19-picu-risiko-depresi-serta-bunuh-diri-BBcziI8oZ8.jpg Konsumsi ganja meningkat karena legalisasi dan pandemi virus Covid-19 (Foto: Antara/Reuters)

WINA - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan konsumsi ganja meningkat di negara-negara yang telah melegalkannya dan selama pembatasan Covid-19, sehingga memperbesar risiko depresi dan bunuh diri.

Kantor PBB Urusan Narkoba dan Kejahatan (UNODC) dalam laporan tahunannya mengatakan ganja telah lama dikenal sebagai narkoba yang paling banyak digunakan di dunia dan penggunaannya terus meningkat.

Laporan Narkoba Dunia itu juga menyatakan kandungan tetrahidrokanabinol (THC) dalam ganja juga semakin tinggi.

Pemakaian ganja non-medis telah dilegalkan di beberapa negara bagian Amerika Serikat, seperti Washington dan Colorado sejak 2012 lalu. Uruguay melegalkannya pada 2013 lalu Kanada pada 2018.

Baca juga: Meski Boleh Dikonsumsi, 'Giting' dengan Ganja di Thailand Tetap Bisa Dipenjara

Negara-negara lain telah mengikuti langkah serupa, tetapi laporan itu hanya difokuskan pada penggunaan ganja di tiga negara tersebut.

 Baca juga: Thailand Legalkan Penanaman Ganja, Lebih dari 4.000 Narapidana Dibebaskan

"Legalisasi ganja tampaknya telah mempercepat tren kenaikan dalam penggunaan narkoba itu, yang dilaporkan setiap hari," kata UNODC dalam laporannya, dikutip Antara.

Kantor PBB yang bermarkas di Wina itu mengatakan meski prevalensi pemakaian ganja di kalangan remaja "tidak berubah banyak", namun ada peningkatan nyata dalam laporan penggunaan produk berpotensi tinggi itu di kalangan dewasa muda.

"Proporsi orang dengan gangguan jiwa dan kasus bunuh diri yang dikaitkan dengan penggunaan ganja telah meningkat," tulisnya.

Laporan itu mengatakan sekitar 284 juta orang, atau 5,6 persen dari penduduk dunia, telah menggunakan narkoba, seperti heroin, kokaina, amfetamin atau ekstasi pada 2020, data terakhir yang tersedia.

Dari 284 juta orang itu, 209 juta di antaranya mengonsumsi ganja.

"Masa penguncian selama pandemi COVID-19 mendorong peningkatan pemakaian ganja pada 2020," kata laporan tersebut.

Produksi kokaina mencapai rekor pada tahun itu dan penyelundupan lewat laut terus meningkat.

Data penyitaan pada 2021 menunjukkan perluasan pasar kokaina dari Amerika Utara dan Eropa –dua pasar utama– ke Afrika dan Asia.

Menurut laporan itu, opioid tetap menjadi obat-obatan paling berbahaya. Fentanil, misalnya, menyebabkan angka kematian akibat overdosis di AS meningkat.

Kematian akibat overdosis fentanil di negara itu pada 2021 diperkirakan mencapai rekor 107.622 kasus.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini