Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Maya Ghazal: Diaspora Suriah yang Ditolak Banyak Sekolah, Berakhir Sebagai Pilot di Inggris

Nanda Aria , Jurnalis-Jum'at, 08 Juli 2022 |05:07 WIB
Maya Ghazal: Diaspora Suriah yang Ditolak Banyak Sekolah, Berakhir Sebagai Pilot di Inggris
Maya Ghazal/ Foto: UNHCR
A
A
A

JAKARTA - Ketika Suriah tercabik dengan konflik berdarah beberapa tahu silam, Maya Ghazal terpaksa menjalani hidup sebagai diaspora di negeri orang. Dia dan keluarganya mendapat suaka di Inggris tujuh tahun lalu.

 BACA JUGA:Timnas Indonesia Kekurangan Mesin Gol, Suporter Sentil Tim-Tim Liga 1

Namun, perjalanan hidup di Inggris tetap tak mudah. Dia sempat mengalami kesulitan untuk mengenyam pendidikan. Akan tetapi, kini dia memiliki ijazah sebagai pilot dan Goodwill Ambassador untuk Badan Pengungsi PBB.

"Setiap kali naik pesawat, saya merasa sangat bersemangat… Saya adalah seorang pilot sekarang. Betapa gila pencapaian ini. Saya adalah orang yang dulu ditolak oleh banyak sekolah," katanya sebagaiamana dilansir dari BBC, Kamis (7/7/2022).

Maya Ghazal meninggalkan Damaskus bersama ibu dan saudara-saudaranya saat usianya 16 tahun. Mereka berangkat ke Inggris, di mana ayahnya sudah terlebih dulu berada.

Tujuh tahun kemudian, Maya adalah pengungsi Suriah pertama yang memenuhi syarat untuk mendapatkan lisensi pilot pesawat pribadi, dan kini menjalani pelatihan untuk lisensi pilot pesawat komersial.

Jalan terjal Maya Ghazal

Ketika pertama kali tiba di Birmingham, Maya berharap bisa melanjutkan pendidikan. Tapi ia mengaku kesulitan masuk ke sekolah.

"Mungkin karena begitu mereka mengetahui bahwa saya dari Suriah, mereka pikir saya tak berpendidikan atau datang ke Inggris secara ilegal. Padahal tidak begitu," kata perempuan 22 tahun itu.

 BACA JUGA:Libur Sekolah dan Idul Adha, KAI Catat 27.005 Penumpang Tinggalkan Jakarta Hari Ini

Ketika Maya tiba di Inggris, dia tidak diwajibkan untuk menempuh pendidikan lanjut atau mendapatkan pelatihan, karena usianya sudah lebih dari 16 tahun.

Dia juga telah menyelesaikan pendidikan menengah di Suriah, sehingga tak ada kewajiban bagi sekolah-sekolah di Inggris untuk menerimanya.

Dia mengaku mendaftarkan diri ke empat lembaga pendidikan dan bersedia melakukan tes fisik dan matematika, namun keempat sekolah itu menolaknya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement