Share

WHO dan UNICEF: 25 Juta Anak-Anak Tidak Divaksin pada 2021, Lewatkan Imunisasi Rutin

Susi Susanti, Okezone · Jum'at 15 Juli 2022 15:25 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 15 18 2630215 who-dan-unicef-25-juta-anak-anak-tidak-divaksin-pada-2021-lewatkan-imunisasi-rutin-uujLiNIGYL.jpg Ilustrasi vaksin pada anak-anak (Foto: Unicef)

JENEWA - Menurut data yang diterbitkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan UNICEF pada Kamis (14/7/2022), cakupan vaksinasi terus menurun di seluruh dunia pada 2021, dengan 25 juta anak kehilangan vaksin yang bisa menyelamatkan jiwa.

"Penurunan berkelanjutan terbesar dalam vaksinasi anak-anak dalam sekitar 30 tahun telah dicatat," kata organisasi itu dalam rilis berita.

Antara 2019 dan 2021, ada penurunan 5 poin dalam persentase anak-anak yang mendapat tiga dosis DTP3, vaksin difteri, tetanus, dan pertusis. Ini membuat cakupan turun menjadi 81%.

WHO dan UNICEF mengatakan cakupan DTP3 digunakan sebagai penanda cakupan imunisasi yang lebih luas.

Baca juga: WHO: Wabah Cacar Monyet Melonjak 6.000 Lebih Kasus di 58 Negara

“Akibatnya, 25 juta anak melewatkan satu atau lebih dosis DTP melalui layanan imunisasi rutin pada  2021 saja. Ini adalah 2 juta lebih banyak dari mereka yang melewatkan pada 2020 dan 6 juta lebih banyak dari pada 2019, menyoroti peningkatan jumlah anak-anak berisiko dari penyakit yang menghancurkan tetapi dapat dicegah," kata mereka.

Baca juga: UNICEF: 15 Bocah Tenggelam dan 3,5 Juta Anak Butuh Air Bersih Akibat Banjir Bandang Bangladesh

Delapan belas juta dari anak-anak ini tidak mendapatkan satu dosis vaksin pun, yang sebagian besar tinggal di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Penurunan lainnya terlihat pada HPV, di mana lebih dari seperempat cakupan yang dicapai pada 2019 hilang, dan campak, yang cakupan dosis pertama turun menjadi 81% pada 2021. WHO mencatat bahwa ini adalah level terendah sejak 2008 dan berarti 24,7 juta anak melewatkan dosis pertama mereka pada 2021.

Baca Juga: Aksi Nyata 50 Tahun Hidupkan Inspirasi, Indomie Fasilitasi Perbaikan Sekolah untuk Negeri

Follow Berita Okezone di Google News

Semua wilayah mengalami penurunan cakupan vaksin, dengan penurunan cakupan DTP3 paling tajam di kawasan Asia Timur dan Pasifik. Beberapa negara mampu menahan penurunan, termasuk Uganda dan Pakistan.

Ada beberapa faktor di balik penurunan tersebut, termasuk meningkatnya jumlah anak yang hidup dalam konflik dan situasi rapuh lainnya, meningkatnya misinformasi dan isu terkait Covid-19.

"Ini adalah peringatan merah untuk kesehatan anak. Kami menyaksikan penurunan berkelanjutan terbesar dalam imunisasi anak dalam satu generasi. Konsekuensinya akan diukur dalam kehidupan," kata Direktur Eksekutif UNICEF Catherine Russell.

"Sementara gejolak pandemi tahun lalu yang diperkirakan sebagai akibat dari gangguan dan penguncian Covid-19, apa yang kita lihat sekarang adalah penurunan yang berkelanjutan. Covid-19 bukan alasan. Kita perlu mengejar imunisasi untuk jutaan orang yang hilang atau kita pasti akan menyaksikan lebih banyak wabah, lebih banyak anak sakit dan tekanan yang lebih besar pada sistem kesehatan yang sudah tegang,” lanjutnya.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan bahwa perencanaan dan penanganan Covid-19 juga harus berjalan beriringan dengan vaksinasi untuk penyakit mematikan seperti campak, pneumonia, dan diare.

“ Ini bukan masalah salah satu saja, tetapi keduanya bisa dilakukan,” ujarnya.

Para anggota Agenda Imunisasi global 2030, sebuah upaya untuk memaksimalkan dampak vaksin yang menyelamatkan nyawa, meminta pemerintah dan kelompok lain membantu mengatasi kemunduran dalam vaksinasi.

Termasuk mengintensifkan upaya untuk mengejar vaksinasi yakni menerapkan strategi berbasis bukti, berpusat pada orang, dan disesuaikan untuk membangun kepercayaan; serta memprioritaskan penguatan sistem informasi kesehatan dan surveilans penyakit untuk menyediakan data dan pemantauan yang diperlukan.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini