Seluruh desa San Marcos Atexquilapan adalah satu jalur produksi yang panjang untuk sepatu dan sepatu boot.
Banyak rumah memiliki bengkel di ruang depan, di mana ayah dan anak atau dua saudara laki-laki mungkin memotong bagian atas kulit untuk sepatu bot koboi. Tumpukan sepatu setengah jadi kemudian diangkut melintasi kota dengan gerobak dorong ke bengkel tetangga, di mana solnya dilem dan jahitan akhir ditambahkan.
"Kami mungkin membuat 80 pasang seoatu pada hari yang baik," kata Tomas Valencia, sepupu dari Olivares bersaudara yang meninggal, saat ia menggunakan mesin udara bertekanan untuk memasang sol pada sepatu boot kerja. Itu menghasilkan pendapatan sekitar USD30 – USD40 (Rp444.000 – Rp592.000) seminggu.
“Tetapi jika kami menghasilkan lebih sedikit sepatu, kami mendapat lebih sedikit uang,” tambahnya.
Hal itu membuat Tomas mempertimbangkan secara serius untuk mengambil perjalanan berisiko yang sama dengan sepupunya - sebuah godaan yang tampaknya telah terlintas di benak hampir setiap anak muda di kota itu. Tetapi setelah menikah hanya setahun yang lalu dan sekarang melihat kerabatnya menemui kematian mengerikan mereka di jalan, Tomas telah memutuskan untuk tetap tinggal - setidaknya untuk saat ini.
Pabrik sepatu yang dikelola keluarga ini, yang menjadi andalan ekonomi desa di samping pertanian dan peternakan, tidak sebanding dengan iming-iming pekerjaan tetap yang dibayar dalam dolar AS.
“Jika segala sesuatunya terus berjalan sebagaimana adanya, kita mungkin akan berakhir seperti desa-desa lain di sekitar sini yakni kota hantu,” jelas Juan Valencia, seorang pensiunan pembuat sepatu yang berhenti berdagang sepatu setelah penglihatannya mulai melemah. "Hanya orang tua yang akan tersisa, semua orang muda akan pergi,” ujarnya.
Menurutnya, jika pabrik sepatu skala besar tidak didirikan di wilayah tersebut, tidak akan banyak yang menghalangi kaum muda untuk bermigrasi, terutama mengingat perlambatan ekonomi akibat pandemi Covid-19.