Share

Kisah Penembak Jitu Taliban yang Bekerja di Belakang Meja, Tetap Happy Walau Tak Bawa Senjata

Susi Susanti, Okezone · Kamis 11 Agustus 2022 01:04 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 10 18 2645466 kisah-penembak-jitu-taliban-yang-bekerja-di-belakang-meja-tetap-happy-walau-tak-bawa-senjata-I9j9InOHpt.jpg Penembak jitu Taliban kini bekerja di belakang meja (Foto: BBC)

AFGHANISTAN - Ketika Taliban mengambil alih kekuasaan di Afghanistan pada Agustus tahun lalu, banyak warga yang hidupnya berubah.

Selama setahun terakhir, puluhan ribu warga Afghanistan telah dievakuasi dari negara mereka, banyak sekolah menengah atas khusus perempuan diperintahkan untuk ditutup, dan kemiskinan meningkat.

Namun, untuk pertama kalinya dalam lebih dari empat dekade, Afghanistan tidak lagi dirundung aksi kekerasan dan korupsi berkurang secara signifikan.

Koresponden BBC, Secunder Kermani, berada di Afghanistan saat pengambilalihan kekuasaan oleh Taliban dari Amerika Serikat (AS) pada Agustus 2021. Dia kini kembali ke negara itu untuk bertemu dengan sejumlah narasumber yang dia jumpai tahun lalu.

Baca juga: Jelang 1 Tahun Pemerintahan Taliban di Afghanistan, Uzbekistan Jadi Tuan Rumah Perundingan AS-Taliban

Ketika tahun lalu Taliban merangsek ke berbagai wilayah Afghanistan di tengah persiapan pasukan negara-negara Barat untuk hengkang, BBC bertemu seorang petempur Taliban bernama Ainudeen di Distrik Balkh, bagian utara Afghanistan.

Baca juga: PBB Sebut Taliban Lakukan 160 Pembunuhan dan 56 Penyiksaan Terhadap Mantan Pejabat Pemerintah

Tatapan matanya dingin dan ‘menusuk’ jantung.

“Kami melakukan yang terbaik agar tidak melukai warga sipil. Tapi ini pertempuran dan manusia akan mati,” kata Ainudeen ketika BBC bertanya bagaimana dia bisa membenarkan aksi kekerasan.

“Kami tidak akan menerima apapun di Afghanistan kecuali sistem Islam,“ lanjutnya.

Baca Juga: Wujudkan Indonesia Sehat 2025, Lifebuoy dan Halodoc Berkolaborasi Berikan Akses Layanan Kesehatan Gratis

Saat itu, perbincangan kami singkat karena pertempuran masih berlangsung dan ada ancaman serangan udara yang dilancarkan militer Afghanistan.

Beberapa bulan kemudian, ketika Taliban telah membentuk pemerintahan, BBC kembali menjumpai Ainudeen yang tengah bersiap menyantap sepiring ikan goreng di tepi Sungai Amu Darya yang membelah Afghanistan dan Uzbekistan.

Kepada BBC, Ainudeen mengaku merupakan seorang penembak jitu Taliban. Berdasarkan perkiraannya, dia telah membunuh puluhan personel militer Afghanistan dan telah mengalami cedera sebanyak 10 kali.

Setelah Taliban mengambil alih kekuasaan, dia diangkat sebagai Direktur Pertanahan dan Pembangunan Kota di Provinsi Balkh. Saat BBC bertemu dengannya pada hari-hari awal pembentukan pemerintahan Taliban, BBC bertanya apakah dia merindukan “jihad“ yang dia lama perjuangkan. Dia pun mengiyakan jawabannya dengan lugas.

Kini, setahun kemudian, Ainudeen duduk di belakang meja kayu dengan bendera Emirat Islam berwarna putih dan hitam di sebelahnya. Dia mengaku pentingnya jabatan yang dia emban.

“Dulu kami berperang melawan musuh kami dengan senjata api, Alhamdulillah kami mengalahkan mereka. Kini kami berusaha melayani rakyat dengan pena kami,” ujarnya.

Ainudeen mengaku dulu bahagia saat bertempur, tapi sekarang dirinya juga gembira bekerja di belakang meja.

Tetapi beberapa mantan petempur Taliban lain yang dulu juga berada di garis depan pertempuran mengaku mereka agak bosan dengan peran kantoran.

Sebagian besar bawahan Ainudeen dipekerjakan saat kekuasaan pemerintahan sebelumnya. Namun di kota lain BBC mendengar keluhan sejumlah warga bahwa pekerjaan mereka diambil para mantan petempur Taliban.

Saat BBC bertanya kepada Ainudeen apakah dia mumpuni untuk mengemban jabatan saat ini.

“Kami menerima pendidikan militer dan modern. Meskipun kami berasal dari latar belakang militer dan kini bekerja di bidang ini, Anda bisa membandingkan hasilnya dengan pemerintahan sebelumnya dan lihat siapa yang memberikan hasil lebih baik,” terangnya.

Dia mengaku jika mengatur peemrintah lebih sulit dibandingkan dengan pertempuran gerilya.

“Tta kelola pemerintahan lebih sulit daripada bertempur, bertempur gampang karena tanggung jawabnya kurang,” ujarnya.

Tantangan Ainudeen adalah tantangan bagi Taliban secara keseluruhan lantaran kelompok ini sedang bertransisi dari pemberontak menjadi penguasa.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini