Share

Pembangunan Cepat Kota Malang Dibanding Daerah Lain Semasa Era Kolonial Belanda

Avirista Midaada, Okezone · Sabtu 13 Agustus 2022 12:20 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 13 519 2647172 pembangunan-cepat-kota-malang-dibanding-daerah-lain-semasa-era-kolonial-belanda-QuISLqm2ON.jpg Splendid Hotel yang sekarang jadi Wisma Tumapel, saksi pembangunan Kota Malang/Avirista Midaada

MALANG - Malang konon memiliki perkembangan yang pesat dibandingkan kota-kota lainnya semasa penjajahan Belanda.

Pasalnya pembangunan sejumlah infrastruktur yang diinisiasi pemerintahan Belanda berlangsung cepat dengan dan tergolong lengkap.

Sejarawan Universitas Negeri Malang (UM) Reza Hudianto menjelaskan, di Malang pembangunan tata letak kota oleh Belanda diawali dengan proyek bouwplan satu.

Saat akses pembangunan baru dilakukan sekitar tahun 1920-an dan tergolong cukup cepat untuk ukuran sebuah kota-kota saat itu.

"Padahal Kota Malang itu adalah kota antara tahun 1914 sebelum dan sesudahnya jauh berbeda. Boleh dikata, kota yang mengalami akselerasi perkembangan kota tercepat di seluruh Jawa, sekali menjadi geemente ada delapan bouwplan, dan ketika ditotal ada beberapa hektar," ucap Reza Hudianto, saat ditemui MNC Portal, pada Sabtu (13/8/2022).

Di daerah bouwplan dikenal dengan daerah Oranjebuurt, wilayahnya menggunakan nama-nama jalan dengan nama-nama anggota keluarga kerajaan Belanda, seperti Wilhelmina straat (sekarang Jalan Dr Cipto), Juliana straat (sekarang Jalan RA Kartini), Emma straat (sekarang Jalan dr Sutomo), Willem straat (sekarang Jalan Diponegoro), Maurits straat (sekarang Jalan MH Thamrin), dan Sophia straat (sekarang Jalan Cokroaminoto).

Baca Juga: Salurkan BLT BBM kepada 20,65 Juta KPM, Ini Strategi Pos Indonesia

Jauh sebelum daerah-daerah itu menjadi kawasan permukiman dan perkantoran di proyek bouwplan-bouwplan Belanda, tanah yang ditempati merupakan area perkebunan tebu.

Perkebunan tebu ini dimiliki oleh Pabrik Gula Kebonagung, yang berada di Pakisaji, Kabupaten Malang.

Lahan kosong dan sebagian besar lahannya yang dimiliki pabrik gula dan rakyat, menjadikan pemerintahan saat itu mudah membelinya dengan harga tidak terlalu mahal.

"Tidak ada satu kota pun di Jawa yang sampai seluas itu, tentu saja ada beberapa faktor yang memengaruhi, karena sekeliling Kota Malang memang kepemilikan tanahnya masih milik pabrik gula Rejoagung, sebagian milik rakyat. Sehingga proses peralihan lahan tidak serumit kalau misal di Surabaya, yang memang menjadi kota, pembelian tanahnya juga mahal," bebernya.

Menurut Reza, Kota Malang di tahun 1920 menjadi kota yang terbelah antara bagian, yang dibelah oleh Sungai Brantas.

Di timur Sungai Brantas yang kini menjadi kawasan Balai Kota Malang, perkantoran, masih kosong.

"Yang sebelah Sungai Brantas masih kosong, kecuali Kayutangan itu karena tidak dilewati Sungai Brantas, jadi bisa berkembang, tidak terpotong oleh sungai," kata pria yang juga kepala laboratorium sejarah di Universitas Negeri Malang ini.

Maka jauh sebelum kawasan Bundaran Tugu dan balai kota berdiri, kawasan perekonomian Kayutangan menjadi terlebih dahulu yang berkembang.

Baru kemudian pemerintahan Belanda melalui dewan kota atau Gemeenteraad, mengembangkan kawasan yang ada di sebelah Kayutangan.

"Makanya yang berkembang duluan Kayutangan. Baru sebelahnya yang mengikuti kemudian. Belum ada akses ke wilayah itu, karena belum ada apa-apanya, ngapain dikasih akses bouwplan dua dikembangkan. Tahunnya kurang begitu hafal sekitar 1920-1924, itu baru bouwplan dua baru dikembangkan," terangnya.

Kawasan balai kota, Wisma Tumapel, dan kawasan Bundaran Tugu ini dibangun dalam waktu yang berbeda-beda.

Wisma Tumapel yang kala itu bernama Splendid, lebih dahulu dibangun dibanding Balai Kota Malang.

"Balai kota baru dibangun 1926 diresmikan 1929. Ternyata dari kronologi Splendid lebih duluan, daripada balai kota, Wisma Tumapel itu 1923, hotel lebih dulu dari pada Balai kota. Balai kota satu generasi dengan HPS (yang kini menjadi kawasan SMA Tugu)," paparnya.

"Splendid di bouwplan dua dulu namanya Speelmanstraat Jalan Speelman (kini Jalan Majapahit). Kemudian yang ke arah barat, Maetsuykerstraat (kini Jalan Tumapel) nama gubernur jenderal. Tanah itu masih kosong sebelum 1920 masih kosong semua, di peta 1884 belum ada apa-apa, belum ada alun-alun (bundaran tugu) belum ada balai kota semua kosong, jalan belum ada. Jalan baru dibangun 1923 - 1924," tukasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini