Supriatin merasa kehidupannya sekarang lebih bahagia. Setelah menghuni Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Penjaringan di Jakarta Utara, ia mengaku ruangan rumahnya sangat manusiawi. Fasilitasnya pun sangat lengkap. “Saya merasakan jauh lebih nyaman, bersih, dan tertata,“ ungkapnya.
Ia juga bercerita, di Rusunawa Penjaringan juga ada ruang Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) serta fasilitas pelatihan keterampilan. “Sehingga kami bisa berlatih keterampilan agar makin sejahtera,” katanya antusias.
Hal senada dirasakan Yayuk. Selain lebih nyaman, bersih, dan rapi, akses trasportasi Rusunawa Penjaringan sangat mudah. "Pokoknya jauh sekali perbedaannya dengan yang dulu, karena sekarang ini alhamdulillah lebih nyaman, bersih, dan tertata. Akses transportasi umumnya juga lebih mudah, karena di sini sudah disiapkan halte busway," ujarnya.
Rusunawa telah menjadi program prioritas Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, untuk mengatasi masalah tempat tinggal masyarakat menengah ke bawah.
Program ini sangat penting, mengingat rumah atau hunian menjadi habitat untuk tumbuh kembang keluarga-keluarga di Jakarta, dengan sehat dan bahagia.
Karena itu, peningkatan kuantitas dan kualitas penyediaan hunian terjangkau kini menjadi perhatian Pemprov DKI. Dengan Integrasi Program dan Galeri Huni, Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP) tak henti meningkatkan kuantitas maupun kualitas hunian warga.
Tak tanggung-tanggung, pada Kamis (18/8) lalu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meresmikan 33 tower dan 7.421 unit rusunawa, yang secara simbolis dilakukan di Rusunawa Penjaringan, Jakarta Utara. Angka ini menjadi rekor pembangunan unit rusunawa terbanyak dalam kurun waktu lima tahun terakhir.
Setiap unit rusunawa memiliki luas 36 meter persegi, yang terdiri dari ruang keluarga, dua kamar, dapur, kamar mandi, serta balkon yang didukung dengan material bangunan yang berkualitas baik.
Lift dilengkapi dengan access card guna meningkatkan keamanan dan kenyamanan bagi semua penghuni rusunawa. Rusunawa juga dilengkapi sirkulasi udara dan pencahayaan yang baik, dari area koridor hingga ruang komunal atau ruang bersama sebagai tempat interaksi penghuni.
Integrasi Hunian Melalui Jak Habitat
Gubernur Anies menjelaskan, kebijakan terkait hunian dan permukiman di Jakarta terintegrasi melalui Jak Habitat. Artinya sebuah tempat di mana mahluk hidup dapat tumbuh berkembang sesuai dengan kodratnya.
“Kita berharap rumah dan hunian ini menjadi habitat untuk tumbuh kembang keluarga-keluarga di Jakarta dengan sehat dan bahagia. Program ini nantinya tak berhenti di 33 tower saja. Kita ingin lanjutkan dan berikan lebih banyak lagi (hunian terjangkau) untuk warga Jakarta,” ucapnya.
Gubernur Anies berpesan agar para penghuni rusunawa membangun suasana kebersamaan dan persaudaraan yang kuat. “Saya ingin titipkan pesan bahwa kita ingin warga yang tinggal di tempat ini bisa membangun suasana kebersamaan dan persaudaraan yang sehat. Yang membangun gedungnya adalah pemerintah, yang membangun persaudaraan adalah penghuninya,” tuturnya.
Ia mengatakan, rusunawa tersebut dekat dengan akses pendidikan, transportasi umum, penyediaan ruang usaha bagi UMKM, hingga pelatihan keterampilan, sebagai upaya membangun kehidupan penghuninya agar makin sejahtera.
Aplikasi Sirukim
Selain fasilitas yang lengkap, manajemen penghunian pun dilakukan secara transparan dan cepat secara online, mulai dari pendaftaran, kebutuhan, kepuasan, hingga keluhan penghuni rusunawa melalui aplikasi Sistem Informasi Perumahan dan Permukiman (Sirukim).
Proses pendaftaran melalui Sirukim lebih singkat, yakni 17 hari daripada yang sebelumnya 70 hari. Sedangkan untuk pengaduan dan keadaan darurat, akan diproses paling lambat 60 menit. Sementara untuk pengaduan sarana prasarana akan diproses paling lambat 2x24 jam.
“Dengan menempati rusunawa yang berkualitas, sehat, dan terjangkau, akan mampu meningkatkan ikatan emosional serta rasa kepedulian sesama penghuni menuju keluarga yang makin sejahtera, rukun, dan bahagia. Masyarakat dapat mengakses aplikasi Sirukim atau datang langsung ke Galeri Huni di Taman Martha Tiahahu, Jakarta Selatan, untuk mendapatkan informasi lebih lanjut,” ujar Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman DKI Jakarta, Sarjoko.
Pengamat perkotaan dari Universitas Trisakti, Yayat Supriatna, mengungkapkan, Jakarta membutuhkan lebih banyak rusunawa, guna mengakomodasi kebutuhan tempat tinggal masyarakat urban di DKI. Menurutnya, rusunawa merupakan salah satu solusi meningkatkan ketersediaan hunian yang terjangkau di Jakarta.
Rusunawa juga merupakan solusi untuk mengatasi masalah perumahan di kota besar seperti Jakarta. Hal itu dikarenakan semakin mahal dan lahan yang terbatas untuk lokasi pembangunan rumah tapak. "Warga yang butuh rumah banyak. Tidak harus milik, yang penting mereka punya tempat tinggal dan produktif, sewa enggak apa-apa," jelas Yayat.
Dengan berbagai terobosan ini, harapan Gubernur Anies agar keluarga-keluarga di Jakarta tumbuh dan berkembang secara sehat serta bahagia diharapkan dapat terwujud.
(Agustina Wulandari )