Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Hoegeng Polisi Paling Jujur Versi Gus Dur, Begini Kisahnya!

Tim Okezone , Jurnalis-Rabu, 24 Agustus 2022 |07:14 WIB
Hoegeng Polisi Paling Jujur Versi Gus Dur, Begini Kisahnya!
Hoegeng (Ist)
A
A
A

PRESIDEN Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah mengungkapkan pendapatnya mengenai polisi. Menurut Gus Dur, di negeri ini hanya ada tiga polisi yang jujur.

“Pertama, patung polisi. Kedua, polisi tidur. Ketiga, polisi Hoegeng (mantan Kapolri),” katanya mengutip buku Mati Tertawa Bareng Gus Dur.

Ungkapan tersebut bukan tanpa alasan. Mantan Kapolri Hoegeng Imam Santoso dikenal sebagai sosok teladan.

Sejumlah kasus besar pun pernah ia ungkap. Dalam buku Hoegeng Polisi dan Mentri, salah satu kasus adalah penyelundupan mobil mewah tanpa bea cukai dan ia masih menjabat sebagai Kapolri saat itu zaman Orde Baru. Hoegeng melawan tindakan penyelundupan tersebut karena dianggap merugikan negara.

Pengusaha yang diceritakan Hoegeng yaitu Robby Tjahjadi yang banyak dibacking oleh aparat Kepolisian dan TNI sebagai salah satu pelaku penyelundupan mobil mewah. Sebelum pada akhirnya Jaksa Agung Ali Said menerjunkan tim gabungan Badan Koordinasi Pelaksana (BPK) menjalankan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 6 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Penyelundupan, Hoegeng Tak pandang bulu dalam membongkar setiap kasus penyelundupan.

Tercatat ada 3.000 mobil mewah yang berhasil masuk tanpa membayar bea masuk, dari ribuan mobil yang tercatat tetapi hanya ratusan mobil yang ditangkap kembali oleh polisi. Cukup besar kerugian negara akibat penyelundupan mobil mewah tersebut sementara Robby hanya dipenjara selama 10 tahun.

Sebelumnya, banyak kasus penyelundupan ini ditangkap tetapi tidak sampai ke pengadilan dan dilepaskan kembali oleh petugas dan berkeliaran kembali di Jakarta. Saat itu, diduga banyak oknum-oknum yang terlibat dengan kasus Robby Tjahjadi, di antaranya oknum bea cukai dan ABRI dan pejabat tinggi lainnya.

Selanjutnya, dalam memoar Hoegeng, Polisi antara Idaman dan Kenyataan, karya Ramadhan KH diceritakan kejujuran Hoegeng Iman Santosa, mantan Kapolri 1968-1971.

Hoegeng pernah merasakan godaan suap. Dia pernah dirayu seorang pengusaha cantik keturunan Makassar-Tionghoa yang terlibat kasus penyelundupan.

Wanita itu meminta Hoegeng agar kasus yang dihadapinya tak dilanjutkan ke pengadilan.

Wanita ini pun berusaha mengajak damai Hoegeng. Berbagai hadiah mewah dikirim ke alamat Hoegeng. Tentu saja Hoegeng menolak mentah-mentah. Hadiah ini langsung dikembalikan oleh Hoegeng. Tapi si wanita tak putus asa. Dia terus mendekati Hoegeng.

Yang membuat Hoegeng heran, malah koleganya di Kepolisian dan Kejaksaan yang memintanya melepaskan wanita itu.

Hoegeng menjadi heran, kenapa begitu banyak pejabat yang mau menolong pengusaha wanita tersebut.

Hoegeng pun mendapat kabar, wanita itu tidak segan-segan tidur dengan pejabat demi memuluskan aksi penyelundupannya.

Hoegeng hanya bisa mengelus dada prihatin menyaksikan tingkah polah koleganya yang terbuai uang dan rayuan wanita.

Selanjutnya tahun 1955, Kompol Hoegeng mendapat perintah pindah ke Medan. Tugas berat sudah menantinya. Penyelundupan dan perjudian sudah merajalela di kota itu.

Para bandar judi telah menyuap para polisi, tentara dan jaksa di Medan. Mereka yang sebenarnya menguasai hukum. Aparat tidak bisa berbuat apa-apa disogok uang, mobil, perabot mewah dan wanita.

Bukan tanpa alasan kepolisian mengutus Hoegeng ke Medan. Sejak muda dia dikenal jujur, berani dan antikorupsi. Hoegeng juga haram menerima suap maupun pemberian apapun.

Pada 1956, Hoegeng diangkat menjadi Kepala Direktorat Reskrim Kantor Polisi Sumut.

Hoegeng pun pindah dari Surabaya ke Medan. Belum ada rumah dinas untuk Hoegeng dan keluarganya karena rumah dinas di Medan masih ditempati pejabat lama.

Cerita soal keuletan para pengusaha judi benar-benar terbukti. Baru saja Hoegeng mendarat di Pelabuhan Belawan, utusan seorang bandar judi sudah mendekatinya.

Utusan itu menyampaikan selamat datang untuk Hoegeng. Tak lupa, dia juga mengatakan sudah ada mobil dan rumah untuk Hoegeng hadiah dari para pengusaha.

Hoegeng menolak dengan halus. Dia memilih tinggal di Hotel De Boer menunggu sampai rumah dinasnya tersedia.

Kira-kira dua bulan kemudian, saat rumah dinas di Jl Rivai siap ditinggali, bukan main terkejutnya Hoegeng. Rumah dinasnya sudah penuh barang-barang mewah. Mulai dari kulkas, piano, tape hingga sofa mahal. Hal yang sangat luar biasa.

Tahun 1956, kulkas dan piano belum tentu ada di rumah pejabat sekelas menteri sekalipun.

Ternyata barang itu lagi-lagi hadiah dari para bandar judi. Utusan yang menemui Hoegeng di Pelabuhan Belawan datang lagi.

Tapi Hoegeng malah meminta agar barang-barang mewah itu dikeluarkan dari rumahnya. Hingga waktu yang ditentukan, utusan itu juga tidak memindahkan barang-barang mewah tersebut.

Dia memerintahkan polisi pembantunya dan para kuli angkut mengeluarkan barang-barang itu dari rumahnya diletakkan begitu saja di depan rumah.

Bagi Hoegeng itu lebih baik daripada melanggar sumpah jabatan dan sumpah sebagai polisi Republik Indonesia.

Hoegeng geram mendapati para polisi, Jaksa dan Tentara disuap dan hanya menjadi kacung para bandar judi. “Sebuah kenyataan yang amat memalukan,” ujarnya geram.

(Erha Aprili Ramadhoni)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement