"Penyelundupan bukan bisnis perorangan, namun sebuah jaringan yang besar. Kami memiliki hubungan satu sama lain. Kendati begitu, saya tidak pergi bersama para migran - semuanya diatur melalui telepon," ujarnya.
Banyak orang Afghanistan yang putus asa dan ingin meninggalkan negara mereka, bahkan PBB mengatakan 2,7 juta orang Afghanistan saat ini tinggal di luar negeri sebagai pengungsi - dengan jumlah dibawah Suriah dan Venezuela sebagai negara sumber pengungsi. Hal inilah yang membuat Noor tak pernah kehilangan klien.
Noor tak perlu mempromosikan jasanya, karena para kliennya yang akan menelponnya. Noor merupakan salah satu penyelundup telah lama menjalankan bisnis ini.
Meski, hanya sebagian yang mencoba mencapai Eropa berhasil. Beberapa dari mereka bahkan menghilang selamanya.
Bisnis Menguntungkan
Meski tragedi tenggelamnya kliennya menambah keraguan Noor tentang profesinya. Namun, tidak mudah untuk meninggalkan jaringan perdagangan yang telah menguntungkannya selama bertahun-tahun.
"Kami mengenakan biaya US$1.000 (sekitar Rp14,2 juta) untuk Afghanistan ke Turki," kata Noor.
"Dari Turki ke Serbia, biayanya US$4.000 (Rp56,7 juta). Dari sana ke Italia, kami menagih US$3.500 (Rp49,6 juta) lagi. Semuanya US$8.500 (Rp120 juta)," imbuhnya.
Ini adalah jumlah uang yang sangat besar di negara di mana pendapatan tahunan per kapita rata-rata hanya di atas US$500 (Rp7,1 juta).
Noor mengantongi mulai dari US$3.000 (Rp42,6 juta) hingga US$3.500 (Rp49,7) untuk setiap migran yang berhasil mencapai Italia.
Yang harus dia lakukan adalah mengangkat telepon, mengatur pengiriman uang, dan sesekali membayar suap kepada pihak berwenang Afghanistan.
Dia tidak pernah bertemu seseorang secara langsung yang tidak dikenalnya atau kerabat dekat atau teman mereka.