Dia mengandalkan reputasinya untuk mendatangkan klien dan berhati-hati dalam berbicara dengan orang asing. Ini adalah kehidupan yang nyaman (yang tidak mudah didapat di Afghanistan) dan ornamen kekayaan terlihat jelas - mobil, pakaian, rumah.
BBC mengetahui ada penyelundup manusia lain yang memutuskan untuk berhenti melakukan bisnis ini, tetapi kembali pada jaringan penyelundupan hanya setahun kemudian.
Rumah-rumah aman
Sang penyelundup mengakui bahwa para migran menghadapi perjalanan ilegal yang berisiko tanpa dokumen perjalanan, dan mengatakan mereka harus bersembunyi di siang hari dan baru bisa melanjutkan perjalanan pada malam hari.
Jaringannya menggunakan rumah-rumah aman yang ada di sepanjang perjalanan, seperti yang ada di kota Teheran dan Istanbul, katanya.
Mereka tak diperbolehkan membawa barang berharga seperti perhiasan atau jam tangan mahal yang bisa menarik perhatian para pencuri. Noor biasanya berkata pada para migran untuk tidak membawa uang tunai lebih dari $100 (Rp1,4 juta).
"Saya tidak bertanggung jawab kalau mereka tertangkap polisi, tapi jika mereka diculik milisi atau kelompok bersenjata kami membayar tebusan agar mereka dilepaskan," ujar Noor.
Tergantung pada intensitas patroli polisi, perjalanan ke Turki bisa ditempuh sekitar sepekan hingga dua bulan. Negara itu menjadi pusat dari pejalanan orang-orang Afghanistan ke Eropa.
Melarikan diri dari Taliban
Salah satu migran yang berhasil mencapai Istanbul dalam perjalanannya ke Barat adalah Hazrat Shah, mantan tentara Afghanistinan.
Setelah desanya dikuasai Taliban, pria berusia 25 tahun takut akan serangan balasan terhadap keluarganya, jadi dia meninggalkan unitnya di militer dan memutuskan untuk meninggalkan negara itu.
Dia berangkat dari Nangarhar di Afghanistan timur awal tahun ini dan mengatakan kepada BBC tentang usahanya untuk mencapai Italia melalui rute yang dilaluinya. Meskipun dia tidak dikirim oleh Noor, dia punya banyak kisah tentang penyelundup orang.
"Setelah tiba di perbatasan (antara Turki dan Iran), butuh waktu satu bulan untuk mencapai Istanbul. Saya tinggal di sana selama beberapa bulan dan bekerja di hotel demi mendapat uang untuk membayar para penyelundup," tutur Shah kepada BBC.