Yang lain, seperti Shaifullah, meninggal sebelum mencapai Mediterania, dan tidak termasuk dalam angka itu. "Banyak orang meninggal, tentu saja. Kecuali Anda benar-benar putus asa, Anda seharusnya tak menempuh perjalanan berbahaya ini sama sekali," kata Shah.
Tapi tidak Afghanistan yang tidak putus asa. Menyusul ledakan besar di dekat kedutaan besar Jerman di Kabul pada tahun 2017 yang menewaskan sedikitnya 150 orang, sebagian besar negara Eropa menutup pusat aplikasi visa mereka di Afghanistan, yang membuat perjalanan secara legal ke Eropa menjadi sangat bermasalah.
Ini hanya meningkatkan arus klien yang mencari layanan penyelundup seperti Noor, terlepas dari risikonya.
Dari migran menjadi penyelundup
Noor sendiri dulu menghadapi situasi yang sama. Seperti orang-orang lainya, dia bermimpi memiliki kehidupan yang nyaman di Inggris dan menempuh perjalanan yang sama ketika dia berusisa 14 tahun. Ayahnya membayar $5,000 (Rp71 juta) untuk penyelundup.
"Saya masih ingat kesulitan yang saya hadapi dalam perjalanan saya, terutama di Bulgaria di mana kami disembunyikan di dalam kereta api - Saya bahkan dipaksa untuk lompat dari kereta yang berjalan," kenang Noor.
Dia melihat banyak kematian sebelum akhirnya berhasil mencapai kota Calais di pesisir Prancis. Di sana, dia melihat kesempatan untuk menghasilkan uang dengan mudah.
"Saya memperkenalkan migran kepada penyelundup lain di kamp Calais. Saya diberi komisi 100 Euro (Rp1,6 juta)per migran." Begitulah cara Noor memulai bisnis perdagangan manusia.