Share

Pidato di PBB, Menlu Rusia Peringatkan AS 'Main Api' di Taiwan

Rahman Asmardika, Okezone · Minggu 25 September 2022 12:26 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 25 18 2674490 pidato-di-pbb-menlu-rusia-peringatkan-as-main-api-di-taiwan-INmLskIjV1.jpg Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov berbicara di Sidang Majelis Umum PBB, New York, Amerika Serikat, 24 September 2022. (Foto: Reuters)

NEW YORK - Rusia pada Sabtu, (24/9/2022) menuduh Amerika Serikat (AS) "bermain dengan api" terkait Taiwan, yang telah meningkatkan antara Beijing dengan Washington dalam beberapa waktu terakhir. Sementara itu China menyatakan akan terus bekerja untuk "penyatuan kembali secara damai" dengan Taiwan dan berjanji untuk mengambil langkah tegas untuk menentang campur tangan eksternal.

Ketegangan atas Taiwan antara Washington dan Beijing telah meningkat setelah kunjungan Agustus oleh Ketua Dewan Perwakilan Rakyat AS Nancy Pelosi pada Agustus. Kunjungan itu direspons dengan latihan militer skala besar China serta janji oleh Presiden AS Joe Biden untuk membela Taiwan jika terjadi serangan dari China.

Beberapa minggu sebelum Presiden Rusia Vladimir Putin melancarkan invasi ke Ukraina pada Februari, ia dan mitranya dari China Xi Jinping mendeklarasikan kemitraan "tanpa batas", menandatangani janji untuk berkolaborasi lebih banyak melawan Barat.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dalam pidatonya pada Sabtu di Majelis Umum PBB menargetkan sikap Washington terhadap Taiwan serta sanksi Barat terhadap Moskow atas perang di Ukraina.

"Mereka bermain api di sekitar Taiwan. Selain itu, mereka menjanjikan dukungan militer ke Taiwan," kata Lavrov sebagaimana dilansir Reuters.

Putin secara eksplisit mendukung China atas Taiwan. "Kami bermaksud untuk secara tegas mematuhi prinsip 'Satu China'," kata Putin pekan lalu. "Kami mengutuk provokasi oleh Amerika Serikat dan satelit mereka di Selat Taiwan."

Baca Juga: Aksi Nyata 50 Tahun Hidupkan Inspirasi, Indomie Fasilitasi Perbaikan Sekolah untuk Negeri

Follow Berita Okezone di Google News

Pekan lalu saat ditanya dalam wawancara dengan CBS 60 Minutes apakah pasukan AS akan membela Taiwan, Biden menjawab: "Ya, jika sebenarnya, ada serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya."

Pernyataan itu adalah yang paling eksplisit sampai saat ini tentang komitmen pasukan AS untuk mempertahankan pulau itu. Itu juga tampaknya melampaui kebijakan "ambiguitas strategis" AS yang sudah berlangsung lama, yang tidak menjelaskan apakah Amerika Serikat akan menanggapi secara militer serangan terhadap Taiwan.

Berbicara beberapa saat sebelum Lavrov, Menteri Luar Negeri China Wang Yi mengatakan Beijing akan terus bekerja untuk "penyatuan kembali secara damai" dengan Taiwan, dan akan memerangi "kegiatan separatis" menuju kemerdekaan Taiwan sambil mengambil langkah-langkah tegas untuk menentang campur tangan eksternal.

โ€œHanya dengan secara tegas mencegah kegiatan separatis, kita dapat membangun fondasi sejati untuk reunifikasi damai. Hanya ketika China benar-benar bersatu kembali, perdamaian abadi di Selat Taiwan dapat tercipta,โ€ katanya.

Komentarnya muncul sehari setelah pertemuan selama 90 menit dengan Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken di New York, pembicaraan pertama mereka sejak kunjungan Pelosi ke Taiwan pada Agustus.

Setelah pertemuan itu, China menuduh Amerika Serikat mengirimkan "sinyal yang sangat salah dan berbahaya" ke Taiwan. Blinken mengatakan kepada Wang pemeliharaan perdamaian dan stabilitas Taiwan sangat penting, kata seorang pejabat senior pemerintahan Biden kepada wartawan. Baca selengkapnya

China melihat Taiwan sebagai salah satu provinsinya. Beijing telah lama bersumpah untuk membawa Taiwan di bawah kendalinya dan tidak mengesampingkan penggunaan kekuatan untuk melakukannya.

Pemerintah Taiwan yang terpilih secara demokratis sangat menentang klaim kedaulatan China dan mengatakan hanya 23 juta penduduk pulau itu yang dapat memutuskan masa depannya.

Wang mengatakan China mendukung semua upaya yang kondusif untuk resolusi damai "krisis" di Ukraina, tetapi memperingatkan terhadap potensi limpahan perang.

"Solusi mendasar adalah untuk mengatasi masalah keamanan yang sah dari semua pihak dan membangun arsitektur keamanan yang seimbang, efektif dan berkelanjutan," kata Wang dalam pidatonya.

"Kami menyerukan semua pihak terkait untuk menjaga agar krisis tidak meluas dan melindungi hak-hak yang sah dan kepentingan negara-negara berkembang."

China telah mengkritik sanksi Barat terhadap Rusia tetapi berhenti mendukung atau membantu dalam kampanye militer.

Presiden Rusia Vladimir Putin pekan lalu mengatakan pemimpin China Xi Jinping memiliki kekhawatiran tentang Ukraina.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini