Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

3 Kali Kudeta Berdarah PKI di Indonesia, Salah Satunya G30S

Tim Litbang MPI , Jurnalis-Rabu, 28 September 2022 |07:01 WIB
3 Kali Kudeta Berdarah PKI di Indonesia, Salah Satunya G30S
Ilustrasi (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Eksistensi PKI atau Partai Komunis Indonesia sudah berlangsung cukup lama, yakni sejak masa penjajahan Belanda. Disebutkan dalam Jurnal Sejarah Lontar (2008) bertajuk “Kehancuran Golongan Komunis di Indonesia”, adalah Josephus Fransiscus Marie Sneevliet yang menjadi orang pertama penyebar paham komunis di Tanah Air. Ia merupakan tokoh intelektual Marxis dan menjabat sebagai ketua persatuan buruh kereta api dan trem di Belanda pada tahun 1909.

Sneevliet pindah ke Hindia Belanda pada 1913 dan menghimpun banyak buruh kereta api dan trem. Sekitar setahun setelahnya, Sneevliet mendirikan ISDV (Indische Sociaal Democratische Partij). Melalui partai ini, Sneevliet mempengaruhi banyak kader dari SI (Sarekat Islam) di wilayah Semarang, hingga akhirnya SI pecah menjadi 2 bagian yakni SI Merah dan SI Putih.

Meskipun Sneevliet diusir oleh pemerintah Belanda di tahun 1918, namun paham komunis tidaklah hilang. Posisi Sneevliet diambil alih oleh Dharsono dan Semaun. Dua kader terbaik ISDV ini mendirikan Perserikatan Komunis Hindia Timur yang sebagian besar beranggotakan SI Merah. Bersamaan dengan kebangkitan nasionalisme Indonesia, nama Perserikatan Komunis Hindia Timur berganti menjadi Partai Komunis Indonesia. Lantas, berapa kali PKI melakukan pemberontakan?

1. 1926-1927

Selama berdiri, PKI terhitung melakukan 3 kali pemberontakan. Pertama adalah di tahun 1926-1927, yang membuat para tokohnya diasingkan ke Boven Digul, Irian Barat oleh pemerintah Belanda. PKI memberontak di Banten dan Silungkang.

Melansir Sindonews, pemberontakan PKI di Banten dipimpin oleh KH Tubagus Achmad Chatib pada 12 November 1926. Anggota PKI melakukan serangan ke rumah Asisten Wedana, Mas Wiriadikoesomo. Bersama dengan keluarganya, Asisten Wedana tersebut ditangkap dan dibawa ke Caringin. Di sisi lain, pihak pemberontak berhasil melumpuhkan polisi pengawal keluarga Mas Wiriadikoesomo.

Baca juga: Kisah Akhir Hayat Musso, Tokoh PKI yang Jasadnya Dibakar dan Abunya Berserakan

Setelahnya, PKI juga melakukan penyerangan ke rumah Haji Ramal dan menewaskan dua orang. Diserang pula rumah seorang pegawai pemerintahan yang sudah membocorkan rencana PKI bernama Mohammed Dahlan. Adapula Benyamis, pegawai kereta api, yang rumahnya juga dijadikan sasaran empuk penyerangan. Dalam insiden itu, ia dan dua orang polisi penjaga tewas. Jasad Benyamis diketahui diperlakukan keji, dengan dipotong-potong dan dibuang.

Usai pemberontakan itu, Gubernur Hindia Belanda di Jawa Barat, WP Hillen, langsung melakukan perburuan dengan 64 kali penangkapan di wilayah Banten. Jika ditotal, setidaknya terdapat 916 orang ditangkap terhitung sejak 13 November hingga 8 Desember 1926. Di tahun yang sama, pemberontakan tercatat terjadi di wilayah lain, seperti Banyumas, Kedu, dan Pekalongan.

Baca juga: Kisah Ketegangan NU dengan Soekarno Usai G30S hingga Karnaval Banser Diserang Massa PKI

Setahun setelahnya, pemberontakan kembali terjadi di Silungkang. Memasuki pukul 11 malam di malam tahun baru 1927, pemberontak sudah mulai melakukan serangan kepada Kepala Nagari Silungkang, Muhammad Djamil. Mereka juga menyasar Guru Mahmud, Djumin, dan Ramhman. Dalam peristiwa itu, ketiga guru dibunuh di rumahnya tanpa melakukan perlawanan. Pedagang emas, Kari Sutan dan Menek, juga tewas di tangan PKI bersama anaknya yang masih sangat kecil. Dalam pemberontakan saat itu, PKI membunuh 7 pegawai pemerintahan Belanda dan menghancurkan fasilitas umum.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement