SUKABUMI - Ratusan warga Kedusunan Cilele, Desa Sirnasari, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Sukabumi, selama puluhan tahun untuk memulai aktivitas sehari-harinya harus rela melintasi sungai Cikaso sepanjang 100 meter menyebrangi sungai tanpa melewati jembatan.
Kepala Desa Sirnasari, Bangbang Gunawan mengatakan, pembangunan jembatan untuk melintasi sungai Cikaso tersebut, sangat dibutuhkan oleh ratusan warga. Sebab, akses tersebut merupakan jalan terdekat menuju tempat publik. Seperti, sekolah, pasar, puskesmas dan area publik lainnya.
"Tidak ada jembatan di sungai Cikaso itu, sejak zaman dahulu, karena belum pernah dibangun oleh pemerintah. Iya, kalau pemerintah desa membangun jembatan dari bambu itu, tidak memungkinkan karena panjang jembatannya hampir 100 meter," ujar Bangbang kepada MNC Portal Indonesia, Selasa (11/10/2022).
BACA JUGA:Banjir! Jembatan di Lebak Putus, Aktivitas Warga Terganggu
Pihaknya mengaku prihatin melihat kondisi warganya. Karena hampir setiap hari warga dan belasan siswa SD harus melintasi sungai tersebut dengan mempertaruhkan nyawannya. Meskipun mereka sudah buka sepatu, tetapi rok atau celana panjang para siswa tetap basah.
"Kalau untuk siswa di usia yang 8 tahun ke bawah, mereka selalu digendong oleh orang tuanya untuk bisa menyeberang sungai menggunakan rakit," ujar Bangbang.
Jembatan di Sungai Cikaso ini, sangat dibutuhkan warga sekitar. Khusususnya untuk di Desa Sirnasari terdapat lebih dari 600 jiwa dengan jumlah kepala keluarga sekitar 230 KK yang tersebar di 3 RT dan 1 RW yang kerap melintasi sungai tersebut.
BACA JUGA:Jembatan Putus, Antrean Kendaraan di Perbatasan Sumut-Aceh Mengular
"Kalau siswa ada 15 siswa ke SDN Cilele 2. Itu dari warga Desa Neglasari, Kecamatan Purabaya. Tepatnya di Kampung Nangewer. Kalau SMP nya jauh, ada yang ke Bojonghaur Lengkong dan tidak ada jembatan. Tetapi kalau ada jembatan enak, bisa deket ke Purabaya, karena ada SMA juga di Purabaya," ujar Bangbang.