Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Miris, Selama Puluhan Tahun Warga Cilele Sukabumi Arungi Sungai Cikaso karena Tak Ada Jembatan

Dharmawan Hadi , Jurnalis-Rabu, 12 Oktober 2022 |04:30 WIB
 Miris, Selama Puluhan Tahun Warga Cilele Sukabumi Arungi Sungai Cikaso karena Tak Ada Jembatan
Anak sekolah saat melintasi Sungai Cikaso (foto: dok ist)
A
A
A

SUKABUMI - Ratusan warga Kedusunan Cilele, Desa Sirnasari, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Sukabumi, selama puluhan tahun untuk memulai aktivitas sehari-harinya harus rela melintasi sungai Cikaso sepanjang 100 meter menyebrangi sungai tanpa melewati jembatan.

Kepala Desa Sirnasari, Bangbang Gunawan mengatakan, pembangunan jembatan untuk melintasi sungai Cikaso tersebut, sangat dibutuhkan oleh ratusan warga. Sebab, akses tersebut merupakan jalan terdekat menuju tempat publik. Seperti, sekolah, pasar, puskesmas dan area publik lainnya.

"Tidak ada jembatan di sungai Cikaso itu, sejak zaman dahulu, karena belum pernah dibangun oleh pemerintah. Iya, kalau pemerintah desa membangun jembatan dari bambu itu, tidak memungkinkan karena panjang jembatannya hampir 100 meter," ujar Bangbang kepada MNC Portal Indonesia, Selasa (11/10/2022).

 BACA JUGA:Banjir! Jembatan di Lebak Putus, Aktivitas Warga Terganggu

Pihaknya mengaku prihatin melihat kondisi warganya. Karena hampir setiap hari warga dan belasan siswa SD harus melintasi sungai tersebut dengan mempertaruhkan nyawannya. Meskipun mereka sudah buka sepatu, tetapi rok atau celana panjang para siswa tetap basah.

"Kalau untuk siswa di usia yang 8 tahun ke bawah, mereka selalu digendong oleh orang tuanya untuk bisa menyeberang sungai menggunakan rakit," ujar Bangbang.

Jembatan di Sungai Cikaso ini, sangat dibutuhkan warga sekitar. Khusususnya untuk di Desa Sirnasari terdapat lebih dari 600 jiwa dengan jumlah kepala keluarga sekitar 230 KK yang tersebar di 3 RT dan 1 RW yang kerap melintasi sungai tersebut.

 BACA JUGA:Jembatan Putus, Antrean Kendaraan di Perbatasan Sumut-Aceh Mengular

"Kalau siswa ada 15 siswa ke SDN Cilele 2. Itu dari warga Desa Neglasari, Kecamatan Purabaya. Tepatnya di Kampung Nangewer. Kalau SMP nya jauh, ada yang ke Bojonghaur Lengkong dan tidak ada jembatan. Tetapi kalau ada jembatan enak, bisa deket ke Purabaya, karena ada SMA juga di Purabaya," ujar Bangbang.

Lebih lanjut ia menjelaskan, apabila di sungai Cikaso tersebut dibangun jembatan secara permanen. Maka, ia meyakini hal tersebut dapat membantu akses mobilitas warga dari tiga kecamatan yang ada di wilayah Kabupaten Sukabumi.

Alasannya, sungai Cikaso tersebut dapat mengubungkan Desa Sirnasari, Kecamatan Pabuaran dengan Desa Neglasari, Kecamatan Purabaya serta Desa Nangerang di Kecamatan Jampangtengah.

"Karena belum ada jembatan, maka warga dan siswa harus rela melintasi sungai Cikaso menggunakan rakit atau perahu yang terbuat dari anyaman bambu. Alhamdulillah, sih belum sampai ada laporan soal warga maupun siswa yang terbawa hanyut saat melintasi sungai itu. Meski demikian, kami tetap khawatir dan merasa sangat kasihan kepada warga, khususnya para siswa," tambah Bangbang.

Untuk bisa berangkat ke sekolah, belasan siswa jika musim kemarau mereka bisa menyusuri sungai dengan berjalan kaki sambil membuka sepatu dan menaikan celana atau rok sekolahnya. Namun, apabila memasuki musim hujan, maka mereka berangkat ke sekolah menggunakan rakit sambil diawasi orangtuanya.

"Namun, jika airnya meluap. Maka dapat dipastikan mereka lebih meliburkan sekolahnya. Iya, tidak ada yang berani mengantarkan anaknya untuk melintasi sungai itu, jika airnya sedang meluap. Karena, kalau dipaksakan rakitnya pasti kebawa banjir," ujar Bangbang.

Jika para siswa tetap berisi keras ingin belajar ke sekolah pada saat airnya meluap, maka mereka harus menggunakan akses lain dengan cara memutar dan memakan waktu 2,5 jam. Namun, jika naik rakit rata-rata warga harus bayar sebesar Rp5 ribu per orangn. Tetapi, bagi siswa hanya bayar seikhlasnya.

"Motor juga banyak yang nyebrang pakai rakit. Karena waktunya dekat. Kalau lewat Pabuaran itu harus melintasi 35 km. Tetapi kalau pakai rakit itu sedikit paling hanya butuh waktu 15 menit sudah sampai ke lokasi," ujar Bangbang.

Pihaknya menambahkan, pemerintah desa sudah berulang kali meminta bantuan kepada pemerintah daerah Kabupaten Sukabumi hingga pemerintah Provinsi Jawa Barat. Sejak 2018 lalu, ia mengaku sudah mengajukan bantuan untuk pembangunan jembatan permanen untuk melintasi sungai Cikaso melalui pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui program Jantung Desa.

Namun, hingga saat ini belum mendapatkan respon yang baik. Setelah itu, ia kembali meminta bantuan pada tahun 2020. Namun, pengajunan untuk pembangunan jembatan itu, anggarannya terkendala recofushing Covid-19.

"Terus kemarin sudah ada survai dari Yayasan Sehati, tetapi sama belum ada rejekinya. Harapan kami, ada secepatnya di bangun jembatan permanen untuk mempermudah layanan pendidikan, kesehatan, dan perekonomian warga kami," pungkasnya.

(Awaludin)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement