JAKARTA – Pendeta muda Rudolf Tobing menghabisi nyawa Ade Yunia Rizabani alias Icha karena alasan dendam. Usai membunuh Icha, Rudolf terekam CCTV membawa jasad Icha dengan troli sambil tersenyum.
Ekspresi senyum tersebut pun kini tengah didalami ahli. Itu kenapa pemeriksaan kejiwaan dilakukan terhadap Rudolf dengan observasi dilakukan selama 14 hari.
(Baca juga: Tersenyum Usai Bunuh Icha, Polisi Periksa Kejiwaan Pendeta Rudolf Besok)
Ini penting dilakukan untuk menentukan kesehatan mental sang pembunuh yang masih bisa menebar senyum sembari membawa jasad Icha. Kenapa penting?
"Tes pemeriksaan psikologis diperlukan untuk menentukan kesehatan mental pembunuh," terang Psikolog Klinis Meity Arianty pada MNC Portal, Rabu (2/11/2022).
"Sebab, jika benar pembunuhan dilakukan dengan sadar apalagi dengan perencanaan, maka hukuman berat atau hukuman mati seharusnya diberlakukan untuk kasus penghilangan nyawa seseorang, sehingga menjadi pembelajaran semua orang agar tidak mudah melakukan perbuatan seperti itu," tambahnya.
Dalam kesempatan ini, MNC Portal juga bertanya terkait dengan makna senyum yang diberikan Rudolf seraya membawa jasad icha. Apa pendapat Mei?
Mengacu pada hasil pemeriksaan kepolisian, disebutkan bahwa tersangka senyum-senyum setelah melakukan aksinya. Ini berkaitan dengan niat pelaku melakukan aksi pembunuhan terhadap Icha, yaitu dendam, dan setelah menghabisi nyawa Icha, Rudolf merasa puas telah membalas dendam.
"Pertanyaannya, apakah ada orang normal merasakan kepuasan setelah membunuh? Sedendam dan semarah apapun seseorang, biasanya akan ada penyesalan dan cemas atau takut setelah menyakiti apalagi membunuh, sehingga jika yang terjadi sebaliknya, artinya ada yang tidak beres dengan kejiwaan tersangka," papar Mei.
Mei pun menyoroti keseharian Rudolf yang ternyata aktif di keagamaan. Poin membuat banyak orang bakal tidak menyangka kalau orang yang terlihat alim, tega membunuh manusia lain.
"Karena itu, jika mengacu pada perilaku abnormal, maka seseorang yang melakukan perbuatan abnormal atau perilaku abnormal, biasanya adalah psikopat, memiliki kelainan atau penyimpangan, orang yang mengalami gangguan mental seperti penderita psikosis, borderline, avoidant, obsesif, dan masalah lainnya," terangnya.
Senyum Rudolf pun, kata Mei, ada kemungkinan jadi 'senjata' pengaburan. Maksudnya, setelah membunuh, tersangka terkesan menyusun rencana agar tidak diketahui orang lain dengan tersenyum. Seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya.