"Bayangkan sebuah kota penuh emas dengan orang-orang yang karakternya dipertanyakan dan bebas melakukan apa yang mereka inginkan. Jumlah rumah bordil, bar, dan gereja di tempat itu sama. Anda dapat bayangkan betapa keras suasana Port Royal kala itu," kata Gordon.
Namun, suatu pagi tanggal 7 Juni 1692, Port Royal dengan sendirinya berubah untuk selamanya. Sebanyak 2.000 orang tewas akibat gempa bumi besar yang menghancurkan sebagian besar kawasan itu.
Port Royal yang muncul setelah bencana itu tidak akan pernah sama dengan sebelumnya.
"Gempa bumi menghancurkan Port Royal dan daratannya, yang luasnya sekitar 52 hektare," kata Selvenious Walters, direktur teknis arkeologi di Yayasan Cagar Budaya Nasional Jamaika.
"Sekitar dua pertiganya hancur dan tenggelam di Pelabuhan Kingston. Gempa bumi menghancurkan bangunan. Banyak orang meninggal karena dinding yang runtuh. Jumlah yang tewas kira-kira lebih dari setengah populasi," ujar Walters.
Citra buruk Port Royal yang tidak diketahui orang-orang di luar Jamaika agak mengejutkan.
Namun belakangan, sisa-sisa air bawah tanah bekas kota bajak laut itulah yang membuat eks lokasi Port Royal menakjubkan. Berada hanya beberapa meter di bawah permukaan air di titik yang minim oksigen, reruntuhan Port Royal adalah kapsul waktu kehidupan kota pelabuhan kolonial abad ke-17.
"Ini diyakini sebagai salah satu situs warisan bawah air yang paling dilestarikan di belahan bumi ini," kata Walters.
"Dan mungkin reruntuhan ini satu-satunya di belahan dunia ini. Jadi bukan hanya demi Jamaika, tapi juga masyarakat dunia, kami sangat harus melindungi dan melestarikan warisan berharga ini," tuturnya
(Nanda Aria)