Share

Belasan Warga Gunungkidul Hidup Dalam Pasungan karena Dianggap Mengancam Sekitarnya

Erfan Erlin, iNews · Jum'at 18 November 2022 14:01 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 18 510 2710054 belasan-warga-gunungkidul-hidup-dalam-pasungan-karena-dianggap-mengancam-sekitarnya-NiNQ5jPDef.jpg Warga Sleman dipasung (foto: dok ist)

SLEMAN - Rabu (16/11/2022) lalu, EW (37) warga Dusun Kerjan Kalurahan Beji Kapanewon Patuk Gunungkidul mengamuk menghancurkan rumahnya karena depresi diceraikan istrinya. Kemudian Mbah Gimin (63) warga Gunungasem Kalurahan Ngoro-oro Kapanewon Patuk terpaksa hidup dalam 'penjara' kamar rumahnya karena dianggap membahayakan ketika bebas.

Ternyata tidak hanya EW dan Mbah Gimin yang mengalami gangguan kejiwaan dan terpasang dipasung ataupun 'dipenjara'. Karena belasan warga Gunungkidul hidup dalam pasungan ataupun 'penjara' di rumahnya sendiri.

"Mereka terpaksa menjalani pasungan ataupun 'penjara' karena ketika bebas dianggap membahayakan warga sekitar," kata Kepala seksi PTM dan Kesehatan Jiwa Dinas Kesehatan Gunungkidul, Musianto.

 BACA JUGA: Diduga Depresi Masalah Cinta, Bujangan Ini Nekat Gantung Diri

Musianto menuturkan saat ini setidaknya ada 17 orang warga Gunungkidul mengalami gangguan kejiwaan dan terpaksa hidup dalam pasungan. Mereka terpaksa dipasung karena dianggap membahayakan ketika bebas.

Mereka harus dipasung atau dipenjara karena sering mengganggu warga sekitar. Warga memutuskan untuk 'menempatkan' di ruang tertutup karena dianggap bisa membahayakan karena sewaktu-waktu akan menyerang warga.

"Jadi warga memutuskan untuk menempatkan di ruang khusus. Dan keluarga tidak bisa menolak," terang dia.

 BACA JUGA:Viral Atlet MMA Australia Ngamuk di Jalanan Kuta, Diduga Depresi

Dari 17 orang tersebut tidak semuanya dipasung karena ada sebagian yang dikurung di dalam sebuah kamar selama bertahun-tahun tidak boleh keluar. Karena ketika hidup bebas berinteraksi dengan lingkungan dianggap membahayakan orang lain.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Meski tidak dipasung, tetapi dikurung di dalam ruangan kecil dan tidak boleh keluar maka Dinas Kesehatan menyebutnya tetap dalam pasungan. Kini ke 17 orang tersebut mendapatkan pengawasan dari Dinas Kesehatan melalui Puskesmas setempat.

Berbagai persoalan memicu terjadinya gangguan jiwa. Persoalan ekonomi, rumah tangga, asmara dan keturunan masih dianggap menjadi pemicu orang mengalami gangguan jiwa yang terjadi selama ini.

"Kami sudah berupaya untuk melakukan pengobatan dan pendampingan," kata dia.

Langkah pertama yang mereka lakukan adalah mengirim ke Rumah Sakit Jiwa Ghrsia yang berada di Kapanewon Pakem Kabupaten Sleman. Di RS Ghrasia, mereka menjalani perawatan dan pengobatan. Setelah stabil baru dikembalikan ke keluarga

Hanya saja, ketika kembali ke keluarga seringkali keluarga kurang mendukung proses penyembuhan dari para pengidap gangguan jiwa ini. Stigma negatif masih sering menyertai mereka sehingga pemulihan mentalnya kembali terganggu.

"Bahkan seringkali penderita gangguan jiwa tidak meminum obat secara rutin karena keluarganya acuh," ujarnya.

Sehingga proses penyembuhan terkendala bahkan ada yang kembali menjalani pasungan atau penjara di rumahnya sendiri. Pemantauan minum obatnya sendiri masih kurang. Mereka ingin keluarga itu juga mendukung penyembuhan.

Salah satu yang kini dipenjara adalah Gimin (63) warga Gunungasem Kalurahan Ngoro-oro Kapanewon Patuk. Puluhan tahun, kakek ini hidup di 'penjara' di kamar rumahnya yang hanya berukuran 2x4 meter.

Dukuh Gunungasem, Ika Wijayanto mengungkapkan, Mbah Gimin sudah berada di dalam 'tahanan' tersebut selama 8 tahun lebih. Warga bersama kerabat memutuskan agar Mbah Gimin dikurung di dalam kamar karena ketika berada di luar, dia sangat membahayakan.

"Mbah Gimin itu sering melempari rumah warga, mengancam dengan parang atau arit dan melempari setiap mobil melintas,'terangnya.

Ika mengatakan, dulu Mbah Gimin memang pernah belajar di Pondok pesantren. Namun keluar dan pulang ke rumahnya di Dusun Gunungasem. Sejak keluar itulah, Mbah Gimin seolah mengalami kelainan jiwa.

Mbah Gimin sering bergumam sendiri dan bahkan sering merusak rumah warga. Mbah Gimin sering melempari rumah warga dengan batu yang ukurannya tidak kecil. Tak hanya itu, setiap mobil melintas juga tak luput dari lemparan batu Mbah Gimin.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini