SHENZEN - Dibesarkan di sebuah desa di China, Julian Zhu hanya beberapa kali bertemu ayahnya dalam setahun ketika dia berlibur dari pekerjaannya yang melelahkan di sebuah pabrik tekstil di provinsi Guangdong selatan.
Bagi generasi ayahnya, pekerjaan pabrik adalah jalan keluar dari kemiskinan di pedesaan. Tapi bagi Zhu, dan jutaan pemuda China lainnya, gaji rendah, jam kerja yang panjang dan risiko cedera, sudah tidak layak lagi untuk diperjuangkan.
"Setelah beberapa saat, pekerjaan itu membuat pikiran Anda menjadi buntu," kata pria berusia 32 tahun itu, yang keluar dari pekerjaan di pabrik tersebut beberapa tahun lalu dan sekarang mencari nafkah dengan menjual susu formula dan melakukan pengiriman skuter untuk supermarket di Shenzhen, pusat teknologi selatan China.
Baca juga: 5 Fakta Gelombang PHK Massal di Industri Garmen dan Tekstil, Begini Langkah Kemnaker
"Saya tidak mau lagi melakukan hal yang sama,” lanjutnya, dikutip Antara.
Pekerjaan utama Zhu saat ini adalah adalah memasang berlian imitasi ke dalam jam tangan. Setelah itu dia bekerja di pabrik lain, mencetak kotak kaleng untuk kue bulan, produk roti tradisional China.
Baca juga: Curhat Emak-Emak Buruh Linting Rokok: Dulu Lembur Bisa Makan Enak, Kini Tak Ada Lagi
Rekan-rekannya berbagi cerita mengerikan tentang cedera di tempat kerja yang melibatkan lembaran logam tajam. Menyadari dia bisa menghindari menghidupkan kembali kehidupan seperti yang dialami ayahnya, dia pun memutuskan untuk berhenti.
Sekarang Zhu melakukan penjualan dan pengiriman, menghasilkan setidaknya 10.000 yuan (Rp22 juta) sebulan, tergantung pada berapa jam dia bekerja. Jumlah itu hampir dua kali lipat dari penghasilannya bekerja di pabrik, meskipun ada beberapa perbedaan pada akomodasi, karena banyak pabrik memiliki asrama sendiri.