"Ini kerja keras. Berbahaya di jalanan yang sibuk, di tengah angin dan hujan, tapi untuk orang yang lebih muda, ini jauh lebih baik daripada pabrik," ujarnya.
"Anda merasa bebas,” terangnya.
Hal senada juga diungkapkan Xiaojing, 27. Dia sekarang menghasilkan 5.000 (Rp11 juta) hingga 6.000 yuan (Rp13 juta) sebulan sebagai tukang pijat di daerah kelas atas Shenzhen setelah tiga tahun bekerja di pabrik printer di mana dia menghasilkan 4.000 yuan (Rp8,8 juta) sebulan.
"Semua teman seusia saya meninggalkan pabrik," katanya, menambahkan bahwa akan sangat sulit untuk membuat mereka kembali.
"Jika mereka mau membayar 8.000 yuan (Rp17,5 juta) di luar lembur, tidak apa-apa," lanjutnya.
Keengganan Zhu dan anak muda lainnya berusia antara 20-an dan 30-an untuk bekerja di pabrik tekstil berkontribusi pada kekurangan tenaga kerja yang semakin parah, membuat frustrasi produsen di China karena mereka memproduksi sepertiga dari barang yang dikonsumsi secara global.
Para pengusaha pemilik pabrik mengatakan, mereka akan mendapatkan lebih banyak tenaga muda untuk menggantikan tenaga kerja mereka yang menua. Tetapi, menawarkan upah yang lebih tinggi dan kondisi kerja yang lebih baik yang diinginkan kaum muda China sebaliknya akan berisiko mengikis keuntungan dalam persaingan sengit.
Sementara itu, pabrik skala kecil mengatakan bahwa investasi besar dalam teknologi otomasi adalah sesuatu yang sulit dijangkau, terutama ketika terjadi kenaikan inflasi dan biaya pinjaman yang membatasi permintaan di pasar ekspor utama China.