3. Agum Gumelar
Agum Gumelar terpilih kembali menjadi Ketua Umum DPP Pepabri (Persatuan Purnawirawan dan Warakawuri TNI dan Polri) masa bakti 2022-2027. Dalam Musyawarah Nasional (Munas) Ke-16 Pepabri di Jakarta, Kamis (17/11/2022), Agum terpilih secara aklamasi.
Di dunia militer, Agum pernah menjadi bagian dari Kopassus. Di Korps Baret Merah itu Agum sempat menjabat Wakil Asintel Kopassus (1987-1988) dan Asisten Intelijen Kopassus (1988-1990). Kemudian, pria kelahiran 17 Desember 1945 ini diangkat sebagai Komandan Jenderal Kopassus sejak 1993 hingga 1994.
Lulusan Akademi Militer Nasional (AMN) pada 1968 ini masuk ke dunia pemerintahan pada 1999. Ia ditunjuk sebagai Menteri Perhubungan dalam Kabinet Persatuan Nasional (1999-2000).
Selanjutnya, berturut-turut ia menjabat Menteri Perhubungan dan Telekomunikasi Kabinet Persatuan Nasional (2000-2001), Menteri Koordinator Bidang Politik, Sosial, dan Keamanan (1 Juni 2001 - 23 Juli 2001) merangkap Menteri Pertahanan Kabinet Persatuan Nasional (10 Juli 2001 - 23 Juli 2001), dan Menteri Perhubungan Kabinet Gotong Royong (2001-2004).
4. Slamet Riyadi
Ignatius Slamet Riyadi merupakan tokoh yang memelopori terbentuknya Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Hal ini bermula dari penumpasan pemberontakan di Maluku yang dilakukan oleh RMS (Republik Maluku Selatan) pada Juli 1950.
Saat itu, Letkol Slamet Riyadi menjadi komandan operasi, sementara pimpinan perang RI dipegang oleh Kolonel AE Kawilarang. Karena banyaknya serangan TNI dapat digagalkan oleh musuh, padahal jumlah TNI lebih besar dibandingkan RMS, maka Slamet Riyadi berinisiasi membentuk satuan pemukul. Satuan ini diharapkan mampu bergerak cepat menghadapi sasaran di berbagai medan berat.
AE Kawilarang kemudian melanjutkan gagasan ini setelah Slamet Riyadi gugur di sekitar kota Ambon. Berdasarkan Instruksi Panglima Tentara dan Teritorium III No.55/Instr/PDS/52 pada 16 April 1952 dibentuklah Kesatuan Komando Teritorium III. Dalam perjalanannya, satuan ini beberapa kali berubah nama hingga akhirnya menjadi Komando Pasukan Khusus di tahun 1985.
Slamet Riyadi telah menerima sejumlah tanda kehormatan secara anumerta yakni, Bintang Sakti, Bintang Gerilya, dan Satya Lencana Bakti. Bahkan namanya digunakan sebagai nama jalan utama di Surakarta. Ia juga dianugerai gelar Pahlawan Nasional pada 2007.
(Qur'anul Hidayat)